Jelaskan Latar Belakang Kopdes Merah Putih
Prabowo mengungkapkan gagasan membentuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih telah muncul sejak puluhan tahun lalu ketika masih bertugas sebagai prajurit di berbagai daerah.
Ia mengaku pernah menyaksikan langsung masyarakat desa hidup dalam kemiskinan dan bahkan mengalami kelaparan.
“Saya lihat di situ rakyat kelaparan, saya lihat ada rakyat yang mati kelaparan, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.
Menurut Prabowo, setelah menjadi presiden, pemerintah mulai merealisasikan gagasan tersebut dengan memperkuat sektor pertanian melalui peningkatan harga gabah dan penurunan harga pupuk.
Namun, ia mendapat laporan bahwa banyak petani masih terbebani utang kepada rentenir.
“‘Pak, percuma Pak, hasil mereka naik’. Kenapa? ‘Karena utang mereka banyak’,” kata Prabowo.
Karena itu, pemerintah menargetkan pembentukan 81.000 Kopdes Merah Putih agar masyarakat desa memiliki akses pembiayaan yang lebih mudah sekaligus menjadi pusat distribusi berbagai barang bersubsidi.
“Hampir semua barang-barang subsidi bisa kita salurkan melalui koperasi supaya tidak diselewengkan,” katanya.
Prabowo juga mengaku menolak usulan pembentukan Kopdes secara bertahap melalui proyek percontohan.
“Ada 81.000 desa dan kelurahan, rakyat itu suruh nunggu 8 tahun? Saya tidak mau,” tegasnya.
Singgung Tamu yang “Tidak Tahu Diri”
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung adanya pihak asing yang menurutnya datang dengan tujuan berdagang tetapi kemudian merugikan Indonesia.
“Kita suka dengan tamu. Kita hormati tamu. Hanya kadang-kadang ada tamu yang enggak tahu diri. Sudah enggak diundang, datang ke sini katanya mau dagang, lama-lama ngerampok,” ujar Prabowo.
Ia mengatakan bangsa Indonesia dikenal ramah terhadap tamu, bahkan rela berbagi dalam keterbatasan.
“Bangsa kita bangsa yang terlalu baik hatinya. Kita ini lugu, benar? Itu sifat bangsa kita,” imbuhnya.





