SIDOARJO – Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) mencatat penurunan permukaan tanah di sejumlah titik tanggul penahan lumpur panas Lapindo mencapai rata-rata 0,5 meter per tahun. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi stabilitas tanggul, terutama di titik 10D Desa Siring, Kecamatan Porong, yang sempat mengalami rembesan pada Jumat (10/7/2026).
Petugas Pelaksana dan Perencanaan PPLS, Arif Wibowo, mengatakan penurunan tanah tidak terjadi di seluruh tanggul yang membentang sepanjang 11 kilometer. Namun, terdapat beberapa titik yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi sehingga membutuhkan pemantauan secara intensif.
“Dari total 11 kilometer luas tanggul penahan lumpur panas Lapindo, ada memang titik-titik yang mempunyai kerawanan. Salah satunya memang di titik 10D di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, yang mengalami penurunan tanah rata-rata 0,5 meter per tahunnya, jadi membutuhkan pemantauan intensif,” ujar Arif, Senin (13/7/2026).
Kondisi Geologi Jadi Penyebab Utama
Arif menjelaskan, kondisi geologi menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan permukaan tanah di kawasan Porong.
Menurutnya, wilayah Sidoarjo berada di atas endapan sedimen yang memiliki daya dukung tanah relatif rendah sehingga lebih rentan mengalami amblesan.
“Kondisi geologi. Pertama kondisi geologi bahwa di Sidoarjo ini adalah daerah endapan sedimen. Kemudian yang kedua, daerah endapan sedimen itu yang mengakibatkan daya dukung tanah rendah,” katanya.
Selain karakteristik tanah, Arif menyebut keberadaan dua sesar aktif juga diduga turut memengaruhi deformasi tanah di sekitar pusat semburan lumpur.
“Yang ketiga adalah mungkin adanya pengaruh dari adanya dua sesar atau dua patahan aktif, yaitu Sesar Siring dan Sesar Watukosek,” ungkapnya.





