“Tingkat detail yang diharapkan orang-orang tidak ada di sana,” kata pejabat tersebut.
Menurutnya, dokumen itu hanya memuat gambaran umum terkait kemungkinan pencairan aset Iran yang dibekukan serta peluang akses terhadap investasi jika Teheran mematuhi isi kesepakatan yang telah dinegosiasikan.
“Iran akan mendapatkan akses ke investasi jika Iran mematuhi hasil kesepakatan yang dinegosiasikan,” ujarnya.
Meski demikian, dokumen tersebut belum menjelaskan mekanisme pelaksanaan, besaran dana yang akan dicairkan, maupun jadwal distribusi aset.
Selain itu, belum terdapat komitmen investasi resmi dari negara-negara Teluk yang tercantum dalam nota kesepahaman tersebut.
Pejabat tersebut juga menilai kondisi saat ini memiliki kemiripan dengan kesepakatan sebelumnya antara Arab Saudi dan Iran yang sempat membuka peluang investasi, tetapi tidak terealisasi.
“Arab Saudi juga berjanji untuk berinvestasi di Iran. Investasi itu tidak terjadi karena Iran tidak mengubah perilaku regional mereka,” katanya.
Meski begitu, ia melihat optimisme cukup besar di kawasan Teluk bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat akan segera berakhir.
“Kita tahu kedua pihak ingin mengakhiri ini. Keduanya memiliki banyak masalah domestik yang perlu mereka atasi. Trump harus terlihat seperti mendapatkan kesepakatan yang lebih baik daripada Obama, dan para pemimpin Iran harus membuat rakyat Iran terlihat seperti mereka menang,” ujarnya.
Akses Dana Bergantung pada Kepatuhan Iran
Berdasarkan dokumen yang tengah dibahas, pemerintahan Trump disebut mempertimbangkan pembentukan dana investasi senilai 300 miliar dollar AS yang dapat bersumber dari aset Iran yang dibekukan maupun investasi pihak ketiga.





