Warga Menilai Bripka EJ Sosok yang Jarang Bersosialisasi
Sekretaris Desa (Sekdes) Manjung, Exsan Nuri, mengatakan warga sekitar tidak terlalu terkejut dengan mencuatnya kasus yang menjerat Bripka EJ.
Menurutnya, Bripka EJ dikenal sebagai sosok yang jarang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar pondok pesantren.
“Tidak humanis, tidak bermasyarakat kok. Kalau di masyarakat-masyarakat sini, slengean sukanya. Tidak mencerminkan seorang ustaz. Kalau di masyarakat sini loh. Kalau di luar, saya enggak tahu,” ujar Exsan kepada Kompas.com, Selasa (21/7/2026) malam.
Meski demikian, Exsan mengakui Bripka EJ beberapa kali pernah melakukan kegiatan berbagi dengan warga sekitar pada momen-momen tertentu.
“Pernah berbagi, namun ya pas momen Lebaran tapi apa itu sifatnya itu cuma di momen-momen tertentu itu. Ya ada. Ya kita akui, saya akui memang pernah juga (berbagi). Namun juga enggak sering, seperti itu,” terangnya.
Warga Tidak Terkejut dengan Kasus yang Mencuat
Exsan menyebutkan, warga sekitar Ponpes Manjung tidak terkejut dengan adanya kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret Bripka EJ.
“Enggak terkejut. Enggak terkejut, enggak terkejut. Memang sudah selayaknya seperti itu. Malah ada yang bilang itu merupakan doa dari masyarakat, seperti itu,” katanya.
Ia mengaku tidak mengetahui bagaimana sosok Bripka EJ di mata para pengurus pondok pesantren karena selama ini pihak pengurus dinilai tertutup terhadap masyarakat sekitar.
“Belum. Itu sangat tertutup kok untuk pengurusnya itu. Sangat tertutup,” ujarnya.
Exsan juga mengatakan awak media mengalami kesulitan untuk memperoleh informasi dari pihak pengurus Ponpes Manjung.
“Jadi diminta data itu sangat-sangat sulit untuk pengurus itu. Dulu saya pernah minta (data) kapasitas santrinya sebenarnya berapa itu sangat sulit,” ungkapnya.
Menurutnya, warga telah lama menyampaikan sejumlah keluhan terkait keberadaan ponpes tersebut, mulai dari persoalan overkapasitas, kebisingan akibat kegiatan yang berlangsung hingga dini hari, hingga kasus perundungan yang menewaskan salah satu santri pada 2025.
“Masyarakat ini sebenarnya sudah apatis. Memang sejak dulu itu maunya ditutup, seperti itu,” kata dia.
Ia juga menyebut adanya informasi bahwa Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri tengah menyusun draf penutupan Ponpes Manjung berdasarkan berbagai masukan dari masyarakat.
“Jadi (yang dilakukan) Kemenag memang dibuat berdasarkan informasi dari masyarakat, masukan dari masyarakat untuk menutup pondok pesantren tersebut. Dan mau langsung dibuat rekomendasi untuk dilaporkan ke Kemenag Pusat,” terangnya.
Informasi tersebut disambut baik oleh warga sekitar.
“Warga mengucapkan terima kasih,” katanya.
Namun demikian, warga berharap apabila pondok pesantren tetap beroperasi, pengelolaannya tidak lagi berada di bawah Bripka EJ.
“Kalau ponpesnya andai kata itu diistilahnya dibeli semuanya, bukan Pak E lagi yang mengelola, dipersilakan. Tapi kalau masih pengelolanya masih Pak E yang saat ini dan dia tinggal di sini, walaupun ganti pengurus itu ya sama saja,” pungkasnya.





