Menurut Fakhrul, terdapat tiga faktor utama yang menopang penguatan rupiah saat ini.
Pertama, komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga secara agresif. Kedua, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai memperbaiki persepsi pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah. Ketiga, langkah efisiensi dan penyesuaian anggaran sejumlah program pemerintah yang menunjukkan komitmen terhadap disiplin fiskal.
“Pasar selama beberapa bulan terakhir menunggu bukti bahwa Indonesia bersedia melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal tersebut mulai terlihat. BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah,” ungkap Fakhrul.
Tantangan Masih Membayangi
Meski tren penguatan mulai terlihat, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya berakhir.
Selain masih adanya arus keluar modal asing, investor global juga masih menunggu keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait status Indonesia di kelompok emerging market dan potensi pencabutan pembekuan penambahan konstituen indeks saham Indonesia.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai keputusan MSCI berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap pasar keuangan domestik.
“Jika MSCI memutuskan untuk menurunkan peringkat Indonesia, dampaknya berpotensi signifikan terhadap sentimen pasar,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, sentimen global mulai menunjukkan perbaikan setelah adanya perkembangan positif hubungan Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan energi dunia.





