Rupiah Bangkit dari Level Rp18.000 per Dolar AS, Mampukah Penguatannya Bertahan?

Selain itu, BI menaikkan imbal hasil SRBI guna menarik investasi portofolio asing. Hingga 15 Juni 2026, posisi outstanding SRBI mencapai Rp1.021,13 triliun dengan kepemilikan investor nonresiden sebesar Rp238,09 triliun atau sekitar 23,32 persen.

Bank Indonesia juga memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing untuk meningkatkan daya tarik investasi di pasar keuangan Indonesia.

Langkah lainnya adalah memperluas instrumen operasi moneter valuta asing melalui transaksi spot dan swap offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah, seiring meningkatnya penggunaan Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan dan investasi.

Baca Juga :  Pertamina Buka Suara soal Isu Penghapusan Pertalite yang Ramai di Media Sosial

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” ujar Perry.

Kepercayaan Pasar Mulai Pulih

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai penguatan rupiah mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.

Baca Juga :  BNI Dukung Regenerasi Bulu Tangkis, Tim Uber Indonesia Tembus Semifinal Piala Uber 2026

Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS dalam waktu dekat.

“Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan. Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor,” katanya.

Pos terkait