Mengenal Great Green Wall Afrika, Proyek “Tembok” Hijau Sepanjang 8.000 Km untuk Lawan Krisis Iklim

Membentang hampir 8.000 kilometer dari pesisir Samudra Atlantik di Senegal hingga tepi Laut Merah di Jibuti, Great Green Wall atau Tembok Hijau Raksasa menjadi salah satu proyek restorasi lingkungan terbesar yang pernah dijalankan di dunia.

Proyek ini melintasi kawasan Sahel, sabuk semi-kering yang membentang di Afrika dan menjadi batas alami antara Gurun Sahara di utara dengan wilayah savana yang lebih subur di bagian selatan.

Meski namanya mengesankan sebuah bangunan raksasa, Great Green Wall bukanlah dinding fisik, melainkan program pemulihan ekosistem berskala besar yang bertujuan mengembalikan fungsi lahan yang mengalami degradasi.

Baca Juga :  Gempa Magnitudo 6,9 Guncang Jepang Timur Laut, Layanan Shinkansen Dihentikan Sementara

Bukan Sekadar Menanam Pohon

Inisiatif yang diluncurkan Uni Afrika pada 2007 ini menargetkan pemulihan 100 juta hektare lahan terdegradasi pada 2030, menyerap 250 juta ton karbon dari atmosfer, serta menciptakan 10 juta lapangan kerja hijau di 11 negara anggota.

Chief Executive Tree Aid, Tom Skirrow, mengatakan konsep Great Green Wall kerap disalahartikan sejak pertama kali diperkenalkan.

“Ketika pertama kali digagas, orang-orang membayangkan sebuah dinding pohon fisik,” kata Tom Skirrow, dikutip dari BBC Wildlife Magazine, Minggu (2/8/2026).

Baca Juga :  Jepang Peringatkan Potensi Banjir di Kyushu Utara akibat Hujan Lebat dan Ancaman Topan

Menurutnya, proyek tersebut bukan sekadar membangun barisan pepohonan, melainkan memulihkan ekosistem secara menyeluruh.

Pendekatan yang diterapkan mencakup penanaman pohon lokal, perlindungan hutan yang beregenerasi secara alami, pemulihan kualitas tanah, pengelolaan aliran air hujan, hingga pendampingan praktik pertanian regeneratif kepada masyarakat.

“Ini adalah program restorasi terbesar di dunia,” ujar Tom Skirrow.

“Ini sangat penting tidak hanya bagi jutaan orang yang tinggal di seluruh kawasan Sahel, tetapi secara lebih luas bagi kemampuan dunia dalam memerangi krisis iklim,” tambahnya.

Pos terkait