Mahasiswa Harvard Mengaku Khawatir Berinovasi
Mahasiswi Program Magister Kebijakan Publik di Harvard University, Asyifa Isvari, juga mengaku kecewa dengan putusan tersebut.
“Seperti yang disampaikan oleh salah satu hakim anggota, sebetulnya enggak ada bukti nyata yang menunjukkan niat jahat dari keputusan Nadiem sebagai menteri untuk memilih Chromebook,” katanya.
Meski masih memiliki keinginan untuk kembali berkarya di Indonesia, Asyifa mengaku muncul kekhawatiran terhadap ruang inovasi.
“Tapi dengan kriminalisasi Nadiem dan juga beberapa teknokrat lain, jelas jadi semakin khawatir untuk berinovasi,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah rekannya di luar negeri memiliki pandangan serupa.
“Banyak yang bilang Nadiem saja dengan rekam jejak membangun Gojek masih aja dikenakan kasus dan kena vonis seperti ini. Gimana kita yang bukan siapa-siapa?” katanya.
Mahasiswa di Australia Ajak Diaspora Tetap Pulang
Mahasiswa Program Magister Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL) di Monash University, Melbourne, Rizky Junior Ully, mengaku heran melihat Nadiem yang menurut pandangannya memiliki niat baik justru terseret perkara korupsi.
Ia mengaku mulai mempertanyakan apakah kebijakan yang nantinya dibuat untuk kepentingan masyarakat justru dapat berbalik menjadi persoalan hukum.
Meski demikian, Rizky tetap mengajak diaspora Indonesia untuk tidak mengurungkan niat pulang ke Tanah Air.
“Untuk kita-kita, atau teman-teman berprestasi yang ada di luar negeri juga, tolong jangan takut pulang,” katanya.
Menurutnya, Indonesia tetap membutuhkan sumber daya manusia yang membawa pengalaman dan perspektif baru dari luar negeri.





