Badan Geologi Jelaskan Sebaran Gas SO2
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, gunung api yang mengalami erupsi magmatik dapat melepaskan gas sulfur dioksida (SO2) dalam jumlah besar.
Gas tersebut kemudian dapat menyebar ke wilayah yang luas karena terbawa angin. Namun, luas dan lokasi paparannya sangat bergantung pada ketinggian gas berada di atmosfer.
“Jika gas SO2 mencapai altitude (ketinggian) atmosfer yang tinggi biasanya wilayah paparan gasnya juga berada di bagian atmosfer atas,” kata Lana, Minggu.
Ia mencontohkan erupsi Gunung Ruang pada 2024. Saat itu, gas dilepaskan hingga ketinggian sekitar 5.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga paparan SO2 di atmosfer bagian atas dapat mencapai wilayah Sumatera.
“Sebaliknya jika keberadaan gasnya dominan di bagian atmosfer yang relatif rendah maka paparan gasnya juga di bagian atmosfer bawah, dan paparan gasnya dapat tercium oleh masyarakat,” ucapnya.
Lana mengatakan Gunung Anak Krakatau saat ini mengalami erupsi magmatik yang melepaskan SO2 dalam jumlah besar.
Gas tersebut relatif berada pada lapisan atmosfer yang lebih rendah karena berkaitan dengan aktivitas erupsi berupa lava fountain.
Kondisi itu memungkinkan paparan SO2 menyebar pada lapisan atmosfer bawah yang lebih dekat dengan permukaan.
“Karena terbawa angin maka paparan gas SO2 dapat dirasakan atau tercium oleh masyarakat di wilayah Banten, Jabodetabek, ataupun Lampung,” ucapnya.
Meski demikian, konsentrasi gas akan semakin rendah seiring bertambahnya jarak dari sumber karena mengalami pengenceran oleh udara.
Namun, bau gas masih mungkin tercium meski konsentrasinya telah menurun.
Pada konsentrasi yang melebihi ambang normal, SO2 dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan.
Paparan dalam konsentrasi tinggi juga dapat memicu batuk, sesak napas, hingga gangguan pernapasan berat.
Lana juga menjelaskan bahwa peta SO2 yang beredar merupakan peta sebaran gas SO2 di atmosfer pada ketinggian tertentu yang terbawa angin di atas wilayah Jabodetabek dan Banten.
“Warna merah pada peta tersebut merupakan anomali keterdapatan gas SO2 pada konsentrasi yang lebih tinggi dari udara normal,” katanya.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu cemas secara berlebihan selama tidak mencium bau gas tersebut di lingkungan sekitar.




