Gas SO2 Anak Krakatau Disebut Kepung Jabodetabek hingga Jawa Tengah, Ini Penjelasan BMKG dan Badan Geologi

Imbauan BMKG dan Badan Geologi kepada Masyarakat

Lana mengimbau masyarakat yang mencium bau gas untuk mengurangi risiko paparan dengan menghindari area yang terpapar dan berlindung di dalam rumah.

Untuk perlindungan pernapasan dari gas sulfur, masyarakat dapat menggunakan masker respirator dengan cartridge atau filter khusus gas asam, seperti SO2 dan H2S.

Jika tidak memiliki masker gas, penggunaan kain basah sebagai penutup hidung dan mulut dapat menjadi langkah sementara. Namun, perlindungan tersebut tidak setara dengan respirator atau filter yang memang dirancang untuk gas.

Masyarakat juga diimbau berhati-hati ketika terjadi hujan di wilayah yang terdampak.

Sebab, SO2 dapat bereaksi dengan air di atmosfer dan membentuk senyawa yang bersifat asam. Karena itu, air hujan yang turun saat kondisi tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi secara langsung.

Baca Juga :  Tabrakan Kereta di Bekasi Timur: 4 Orang Meninggal, 38 Korban Berhasil Dievakuasi

Sementara itu, Alpon mengimbau masyarakat menggunakan masker dan kacamata pelindung untuk melindungi saluran pernapasan serta mata dari paparan abu vulkanik.

Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat terjadi hujan abu atau ketika kualitas udara menunjukkan kategori tidak sehat.

“Pintu, jendela, dan ventilasi rumah sebaiknya ditutup untuk mencegah abu masuk ke dalam ruangan,” kata Alpon.

Abu yang menempel di atap, kendaraan, atau halaman juga sebaiknya dibersihkan dengan cara disiram air, bukan disapu dalam kondisi kering.

Baca Juga :  BMKG Ungkap Daftar Wilayah dengan Suhu Terpanas Awal Mei 2026, Monsun Australia Jadi Pemicu

Cara tersebut dapat mengurangi risiko partikel abu kembali beterbangan dan terhirup.

Perlindungan ekstra perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung.

Masyarakat juga diimbau memantau angka kualitas udara resmi secara berkala dan tidak hanya berpatokan pada citra satelit atau tangkapan layar peta yang beredar di media sosial.

“Selain itu, informasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kualitas udara sebaiknya diperoleh dari sumber resmi, seperti BMKG, PVMBG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah setempat. Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” pungkasnya.

Pos terkait