China Berhasil Meniru Cara Kerja Matahari, Teknologi ‘Matahari Buatan’ EAST Buka Jalan Energi Masa Depan

Cara China Meniru Matahari di Bumi

Untuk meniru proses yang terjadi di Matahari, para ilmuwan China menggunakan reaktor berbentuk cincin atau donat raksasa yang disebut tokamak.

Di dalam reaktor tersebut, gas hidrogen dipanaskan hingga suhu lebih dari 100 juta derajat Celsius, jauh lebih panas dibanding inti Matahari.

Suhu ekstrem itu diperlukan karena Bumi tidak memiliki gaya gravitasi sebesar Matahari yang mampu menekan partikel-partikel agar tetap rapat.

Ketika dipanaskan pada suhu sangat tinggi, gas hidrogen berubah menjadi plasma, yaitu materi berenergi tinggi yang terdiri dari inti atom dan elektron bebas.

Baca Juga :  Lebih dari 1.000 Sanksi AS Tak Mampu Lumpuhkan Iran, Teheran Tetap Raup Miliaran Dolar dari Minyak

Tantangan utama muncul karena tidak ada material yang mampu menahan plasma dengan suhu setinggi itu. Untuk mengatasinya, plasma dikurung menggunakan medan magnet superkuat di dalam ruang vakum sehingga tidak menyentuh dinding reaktor.

Di dalam plasma yang terkendali itulah reaksi fusi berlangsung, mirip seperti proses yang terjadi di pusat Matahari.

Apa Itu Batas Greenwald?

Selain membutuhkan suhu tinggi, reaktor fusi juga memerlukan plasma dengan tingkat kepadatan yang besar.

Baca Juga :  BNPT Ungkap 112 Anak Terpapar Radikalisme Lewat Gim Roblox, Satu Disebut Siap Lakukan Serangan

Semakin padat plasma, semakin sering partikel-partikel bertabrakan sehingga energi yang dihasilkan semakin tinggi.

Namun selama puluhan tahun, para ilmuwan menghadapi hambatan yang dikenal sebagai batas Greenwald.

Batas ini merupakan titik ketika plasma menjadi tidak stabil akibat kepadatan yang terlalu tinggi. Jika kondisi tersebut terjadi, plasma dapat keluar dari kurungan magnet dan merusak reaktor.

Karena risiko tersebut, batas Greenwald selama ini dianggap sebagai salah satu kendala terbesar dalam pengembangan energi fusi.

Pos terkait