Lebih dari 1.000 Sanksi AS Tak Mampu Lumpuhkan Iran, Teheran Tetap Raup Miliaran Dolar dari Minyak

TEHERAN – Amerika Serikat telah menjatuhkan lebih dari 1.000 sanksi terhadap Iran dalam kurun waktu 18 bulan terakhir sebagai upaya meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Selama ini, sanksi ekonomi menjadi salah satu instrumen utama Washington untuk membatasi akses negara target terhadap sistem keuangan global, mengisolasi perekonomian mereka, serta menekan perusahaan yang tetap melakukan transaksi dengan pihak yang terkena sanksi.

Namun, menurut laporan The Wall Street Journal, Sabtu (20/6/2026), Iran masih mampu menghasilkan pendapatan miliaran dolar AS, terutama dari sektor ekspor minyak ke China.

Laporan tersebut juga menyebut Gedung Putih telah menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk mengurangi tekanan ekonomi sebagai bagian dari upaya menjaga kebebasan jalur pelayaran.

Baca Juga :  Pesta Kembang Api Meriahkan Perayaan Hari Kemenangan Rusia di Moskow

Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat menawarkan pencabutan permanen sejumlah sanksi apabila Iran mengambil langkah tertentu, termasuk terkait program nuklirnya.

Di sisi lain, Iran disebut membutuhkan pelonggaran sanksi karena tekanan ekonomi yang berkepanjangan telah berdampak terhadap kondisi ekonomi nasional dan memicu ketidakpuasan masyarakat.

Ekspor Minyak Jadi Penopang Utama Ekonomi Iran

Meski menghadapi berbagai pembatasan, Iran tetap mampu mempertahankan sumber pemasukan utama dari sektor energi.

Pada 2024, Iran dilaporkan memperoleh pendapatan sekitar 43 miliar dolar AS atau setara Rp766 triliun dari ekspor minyak.

Baca Juga :  Prabowo Hadiahkan Baju untuk Anjing Presiden Korea Selatan, Bobby, Saat Kunjungan ke Seoul

Pemasukan tersebut sebagian besar berasal dari penjualan minyak ke China yang hingga kini menjadi salah satu mitra dagang utama Teheran.

Kemampuan Iran mempertahankan pendapatan minyak membuat tekanan ekonomi dari Amerika Serikat dinilai tidak sepenuhnya efektif dalam memengaruhi posisi Teheran di meja perundingan.

Bahkan, pemerintahan Presiden Donald Trump disebut sempat melakukan blokade fisik terhadap pelabuhan Iran untuk menekan aktivitas ekspor minyak dan mendorong Iran masuk ke dalam proses negosiasi.

Meski demikian, sejumlah analis menilai Iran masih memiliki posisi tawar yang kuat, termasuk pengaruhnya terhadap Selat Hormuz dan kemampuan mempertahankan pemasukan dari perdagangan minyak.

Pos terkait