China Berhasil Meniru Cara Kerja Matahari, Teknologi ‘Matahari Buatan’ EAST Buka Jalan Energi Masa Depan

Matahari telah menghasilkan energi selama miliaran tahun tanpa henti melalui proses fusi nuklir di pusatnya. Teknologi yang sama kini berusaha ditiru para ilmuwan di Bumi untuk menciptakan sumber energi bersih dan nyaris tak terbatas.

Salah satu kemajuan terbaru datang dari China melalui reaktor fusi nuklir Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), yang kerap dijuluki sebagai “matahari buatan”.

Reaktor tersebut baru saja mencatat pencapaian penting dengan melampaui salah satu hambatan utama dalam penelitian fusi nuklir yang selama puluhan tahun dianggap sangat sulit ditembus, yakni batas Greenwald.

Baca Juga :  China Kembali Pimpin Daftar Superkomputer Tercepat Dunia, LineShine Geser El Capitan Milik AS

Keberhasilan ini dinilai membuka peluang baru dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis fusi nuklir pada masa depan.

Bagaimana Matahari Menghasilkan Energi?

Untuk memahami pentingnya pencapaian EAST, perlu melihat terlebih dahulu bagaimana Matahari bekerja.

Di pusat Matahari, suhu mencapai sekitar 15 juta derajat Celsius dengan tekanan yang sangat tinggi. Dalam kondisi tersebut, inti-inti atom hidrogen bertabrakan dan menyatu membentuk helium melalui proses yang disebut fusi nuklir.

Baca Juga :  Jeff Bezos Borong 5 Startup AI dalam Sebulan, Tak Gentar Isu Gelembung Investasi

Saat proses penyatuan itu terjadi, sebagian kecil massa berubah menjadi energi dalam jumlah sangat besar. Energi tersebut kemudian dipancarkan sebagai cahaya dan panas yang sampai ke Bumi.

Karena proses fusi berlangsung terus-menerus, Matahari dapat menghasilkan energi selama miliaran tahun tanpa memerlukan bahan bakar tambahan seperti pembangkit listrik konvensional.

Teknologi fusi nuklir selama ini dianggap sebagai salah satu solusi energi masa depan karena berpotensi menghasilkan listrik dalam jumlah besar dengan emisi karbon yang sangat rendah.

Pos terkait