Tanggul Lumpur Lapindo Turun 0,5 Meter per Tahun, PPLS Ungkap Penyebab dan Dampaknya

PPLS Evaluasi Stabilitas Tanggul

Arif mengatakan penurunan permukaan tanah menjadi salah satu pertimbangan utama dalam setiap rencana peninggian tanggul.

PPLS terus menghitung batas aman penambahan material agar beban timbunan tidak mempercepat penurunan tanah maupun mengganggu stabilitas tanggul.

“Kalau kita menghitung stabilitas, beban dari material yang kita timbun akan berpengaruh terhadap stabilitas. Karena itu kami menghitung kembali sampai elevasi berapa peninggian timbunan baru masih aman dilakukan,” kata Arif.

Baca Juga :  Gudang Diduga Milik PT BW di Kawasan Industri Talang Duku Muaro Jambi Terbakar Hebat

PPLS juga mencatat debit semburan lumpur panas terus mengalami penurunan dibandingkan saat awal bencana pada 2006.

Jika sebelumnya debit lumpur mencapai sekitar 100.000 hingga 120.000 meter kubik per hari, kini volumenya berkisar antara 27.000 hingga 32.000 meter kubik per hari.

Berdasarkan hasil pemantauan, aliran lumpur masih bergerak ke arah utara dan barat, menuju Jalan Raya Porong serta jalur rel kereta api.

Baca Juga :  Kasus Api Misterius di Sleman, Tim UGM Temukan Dugaan Anomali Bawah Tanah dan Endapan Rawa Purba

PPLS menduga penurunan permukaan tanah menjadi salah satu faktor yang memicu munculnya rembesan di titik 10D pada Jumat (10/7/2026). Karena itu, pemantauan dan evaluasi terhadap kondisi tanggul terus dilakukan secara berkala guna menjaga stabilitasnya.

Pos terkait