BONE – Ratusan buruh proyek Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mengamuk setelah upah mereka belum dibayarkan selama tiga minggu.
Insiden yang terjadi pada Senin (10/8/2026) sekitar pukul 22.00 WIB itu membuat aparat kepolisian turun tangan dan mengevakuasi mandor serta pihak manajemen proyek ke Mapolsek Tanete Riattang.
Aksi tersebut dipicu kekecewaan para pekerja yang berujung pada perusakan kantor manajemen proyek.
Untuk meredam situasi, kepolisian memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak di Mapolsek Tanete Riattang pada Selasa (11/8/2026), guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Buruh Tuntut Upah Tiga Pekan Segera Dibayarkan
Amarah para buruh dipicu oleh keterlambatan pembayaran upah yang telah berlangsung selama tiga minggu.
Hingga aksi protes terjadi, tuntutan para pekerja agar hak mereka segera dibayarkan belum juga dipenuhi.
“Kami belum gajian selama tiga minggu sementara anak dan istri kami di rumah butuh makan,” kata Ahmad, salah seorang buruh yang dikonfirmasi Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa (11/8/2026).
Diduga Anggaran Upah Dialihkan untuk Membayar Tagihan Sembako
Kepala Seksi Humas Polres Bone, AKP Rayendra Muchtar, mengatakan pihak kepolisian memindahkan lokasi mediasi ke Mapolsek karena kondisi di lokasi proyek sudah tidak kondusif.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, keterlambatan pembayaran upah diduga terjadi karena dana yang semestinya digunakan untuk membayar para pekerja dialihkan guna melunasi tagihan sembako.
Hal tersebut terungkap saat mandor proyek memberikan klarifikasi dalam forum mediasi.
Menurut penjelasan mandor, pihak manajemen sebelumnya telah menyerahkan dana sebesar Rp500 juta. Namun, sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membayar utang kepada pemasok sembako yang menyediakan konsumsi bagi ratusan pekerja.
“Dana Rp500 juta sudah saya terima tetapi saya bayar suplier Rp425 juta. Jadi sisanya cuma Rp75 juta dan ini tidak mencukupi. Saya terpaksa alihkan karena suplier terus mendesak untuk dilakukan pelunasan,” kata Samsuri, mandor proyek Sekolah Rakyat Bone saat mediasi digelar.





