Petugas lapangan yang telah bergabung sejak Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) 2022 itu mengaku tantangan terbesar saat ini adalah menurunnya tingkat kepercayaan sebagian masyarakat terhadap pemerintah.
“Cuma sekarang kendalanya karena tingkat kepercayaan warga terhadap pemerintah sedikit menurun. Apalagi ada masalah-masalah siber seperti pinjol, sehingga warga agak susah dimintai data,” ujar Garnis.
Menurutnya, banyak warga masih mengaitkan sensus ekonomi dengan kewajiban membayar pajak.
“Masalah utamanya ya karena mereka tidak percaya. Padahal saya sudah menjelaskan bahwa sensus ekonomi ini bertujuan mengetahui tingkat kesejahteraan dan kondisi ekonomi masyarakat,” katanya.
Untuk mempermudah pendataan, Garnis terlebih dahulu berkoordinasi dengan ketua RT agar informasi mengenai sensus dapat disampaikan kepada warga.
Meski demikian, ia mengaku masih menemui warga yang menolak didata.
Dalam sehari, Garnis menargetkan pendataan sekitar 15 rumah. Target tersebut tidak selalu mudah dicapai karena aplikasi pendataan terkadang mengalami gangguan maupun keterbatasan sinyal.
“Kadang aplikasinya error atau sinyal di lokasi kurang bagus, sehingga saat loading saya hanya bisa menyimpan data terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, sebagian warga kesulitan mengingat rincian pengeluaran listrik, konsumsi rumah tangga, hingga jumlah kepemilikan emas.
“Kalau soal emas, misalnya mereka bilang punya lima gram, ya saya harus percaya karena tidak mungkin saya minta diperlihatkan,” katanya.
Menurut Garnis, bagian tersulit dalam pendataan adalah memperoleh informasi mengenai usaha yang dijalankan responden.





