Petugas juga memastikan setiap jawaban dipahami responden dan sesuai dengan data yang tersimpan dalam aplikasi sensus.
Setelah seluruh data selesai diverifikasi, petugas menempelkan stiker Sensus Ekonomi 2026 di rumah sebagai tanda bahwa proses pendataan telah selesai.
Warga Masih Khawatir Data Aset Berpengaruh pada Pajak
Fery, yang telah menjadi petugas sensus sejak 2022, mengatakan tantangan pendataan di kawasan perumahan elite berbeda dengan wilayah perkampungan.
“Kalau di perumahan, tantangannya lebih kepada kekhawatiran warga terhadap pajak,” ujar Fery.
Menurut dia, tantangan lain adalah sulitnya bertemu langsung dengan pemilik rumah karena sebagian besar memiliki aktivitas yang padat.
“Kesulitan di perumahan elite lebih kepada waktu. Saat akhir pekan pun kadang yang ada hanya asisten rumah tangga karena pemilik rumah sedang berlibur,” katanya.
Fery mengungkapkan, hingga Agustus 2026 dirinya mendapat target mendata sekitar enam RT atau hampir 900 kepala keluarga. Dalam sehari, ia menargetkan sedikitnya 20 rumah.
Selama bertugas, ia mengaku belum pernah mendapat penolakan secara langsung. Namun, masih ada warga yang enggan membuka seluruh informasi mengenai aset yang dimiliki.
“Biasanya mereka khawatir kalau aset dicatat, nanti pajaknya naik. Itu alasan yang paling sering saya dengar,” katanya.
Meski demikian, Fery berharap masyarakat semakin memahami tujuan pelaksanaan sensus ekonomi.
“Harapan saya ke depan semoga masyarakat bisa menerima kehadiran kami sebagai petugas sensus sehingga kami dapat mendata setiap keluarga dengan baik,” ujarnya.
Tantangan Membangun Kepercayaan Masyarakat
Sementara itu, Garnis mengatakan pekerjaan petugas sensus bukan sekadar mengisi formulir, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat.





