Iran Kembali Luncurkan Rudal Balistik ke Pasukan AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

WASHINGTON DC – Militer Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa Iran kembali meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan AS di Timur Tengah pada Selasa (28/7/2026). Serangan tersebut mengakhiri jeda pertempuran singkat yang sempat terjadi ketika para mediator berupaya membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan menuju gencatan senjata.

Komando Pusat Amerika Serikat (Central Command/Centcom) mengonfirmasi seluruh rudal yang diluncurkan Iran berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan fatal.

Dalam pernyataan resminya, Centcom menegaskan bahwa pasukan AS tetap berada dalam tingkat kesiapan yang tinggi untuk mengantisipasi perkembangan situasi di kawasan.

Di saat yang sama, ketegangan juga meluas ke wilayah lain di Timur Tengah sebagaimana dilansir PBS.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menjatuhkan sejumlah drone yang dikirim milisi yang didukung Iran dari wilayah Irak selama dua hari berturut-turut. Drone tersebut disebut menargetkan fasilitas minyak di wilayah timur Arab Saudi.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut serangan tersebut diluncurkan dari wilayah Irak dan dilakukan oleh milisi yang berafiliasi dengan Iran.

Merespons tuduhan tersebut, Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, langsung memerintahkan lembaga keamanan untuk melakukan penyelidikan. Pihak militer Irak juga menegaskan komitmennya untuk mencegah wilayahnya digunakan sebagai jalur maupun titik peluncuran serangan terhadap negara-negara sahabat.

Baca Juga :  Baku Tembak di Dekat Konsulat Israel di Istanbul, Satu Penyerang Tewas

Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh kelompok Perlawanan Islam di Irak (Islamic Resistance in Iraq), sebuah kelompok payung bersenjata yang didukung Iran. Mereka menyebut klaim Arab Saudi sebagai sebuah rekayasa dan mengindikasikan bahwa serangan tersebut kemungkinan dilakukan oleh kelompok Houthi di Yaman.

Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah meluncurkan rudal ke arah kapal tanker minyak Arab Saudi, NCC Ghazal, yang memaksanya berputar balik. Tindakan tersebut merupakan bagian dari blokade pelayaran terhadap Arab Saudi yang diumumkan Houthi sejak pekan lalu dan turut membahayakan jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations/UKMTO) mengonfirmasi sebuah kapal tanker melaporkan adanya suara ledakan ketika berlayar di kawasan selatan Laut Merah. Meski tidak menyebut nama kapal secara spesifik, UKMTO memastikan seluruh awak kapal berada dalam kondisi selamat.

Ketegangan AS-Iran Kembali Meningkat

Baca Juga :  Pangeran Harry Digugat Lembaga Amal Sentebale atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

Rangkaian serangan terbaru ini mengakhiri masa tenang singkat antara Amerika Serikat dan Iran.

Sebelumnya, kedua negara sempat menghentikan serangan selama beberapa hari setelah mengalami eskalasi sengit di Selat Hormuz. Iran secara efektif sempat menutup selat tersebut pada awal konflik dengan menembaki maupun mengancam kapal-kapal kargo dan tanker yang melintas.

Pasca penandatanganan kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni, perebutan kendali atas Selat Hormuz kembali memicu pertempuran. Iran menuntut kapal-kapal yang melintas menggunakan rute di dekat garis pantainya dan berpotensi memungut biaya.

Di sisi lain, kapal-kapal komersial justru semakin banyak menggunakan rute selatan di sepanjang pantai Oman di bawah pengawasan operasi militer AS.

Pada Selasa, Iran mengklaim serangan udara AS pada periode eskalasi sebelumnya telah menghancurkan sebuah bandara dan menara kontrol maritim, serta merusak 12 jembatan dan dua terowongan.

Militer AS sebelumnya menyatakan bahwa serangan udara tersebut ditujukan ke sejumlah sasaran militer sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Serangan itu kemudian dibalas Iran melalui peluncuran rudal dan drone yang menargetkan negara-negara Arab yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS.

Pos terkait