Bawa Pesan Khusus Trump, PM Irak Ali al-Zaidi Ditolak Iran soal Proposal Gencatan Senjata

TEHERAN – Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS) dan disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi saat berkunjung ke Teheran, Kamis (23/7/2026).

Penolakan tersebut terjadi di tengah baku tembak antara Iran dan AS yang telah berlangsung hampir dua pekan.

Kabar itu pertama kali dilaporkan The New York Times dengan mengutip sejumlah pejabat Iran dan Irak. Dalam laporan tersebut disebutkan, Ali al-Zaidi membawa proposal gencatan senjata setelah sebelumnya bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih.

Baca Juga :  Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 5 Persen Setelah Trump Klaim Selat Hormuz Akan Dibuka

Menurut laporan yang dikutip Anadolu Agency, rincian isi proposal tersebut tidak diketahui secara pasti. Namun, pejabat Iran menyebut tawaran itu merupakan satu-satunya proposal yang saat ini diajukan oleh pihak Amerika Serikat.

Teheran dikabarkan menolak proposal tersebut karena dinilai belum menyelesaikan persoalan mengenai kendali atas Selat Hormuz.

Kunjungan Perdana Ali al-Zaidi ke Iran

Kunjungan Ali al-Zaidi ke Iran kali ini merupakan kunjungan resmi pertamanya sejak menjabat sebagai Perdana Menteri Irak pada Mei lalu.

Ia datang bersama delegasi tingkat menteri dan bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas hubungan bilateral, perkembangan situasi kawasan, serta upaya memperkuat keamanan dan stabilitas regional.

Baca Juga :  Aktivis GSF Dibebaskan dari Penjara Israel, Malah Dapat Kekerasan Polisi Spanyol

Pejabat Iran menyebutkan, pembahasan juga mencakup pelaksanaan sejumlah kesepakatan yang telah ditandatangani sebelumnya. Kedua pemerintah turut menyerukan perluasan kerja sama di bidang perdagangan, energi, transportasi, dan urusan kawasan.

Media Iran melaporkan bahwa Ali al-Zaidi juga menggelar pertemuan dengan Ketua Parlemen Iran sekaligus juru runding utama negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Pos terkait