Israel Beri Alasan Penggunaan Bom Berat
Militer Israel membela penggunaan amunisi berdaya ledak besar dengan menyatakan bahwa Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon membangun markas serta bunker di bawah kawasan permukiman sipil.
Namun, penggunaan bom berbobot 2.000 pound tetap menjadi perhatian karena daya rusaknya yang besar. Sejumlah pakar dan mantan pejabat militer AS mempertanyakan penggunaan amunisi tersebut di kawasan padat penduduk ketika tersedia jenis amunisi lain dengan dampak kerusakan yang lebih terbatas.
Laporan AP menyebut bom 2.000 pound yang masuk dalam rencana paket tersebut merupakan jenis amunisi yang sebelumnya menjadi perhatian pemerintahan Biden. Pengirimannya sempat ditunda karena kekhawatiran mengenai kemungkinan jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar di Gaza.
Paket Senjata Belum Final
Berbeda dengan informasi yang menyebut bom tersebut telah dikirim, laporan terbaru Reuters dan AP menyatakan paket senilai 2,8 miliar dollar AS itu masih berupa rencana penjualan. Kongres AS juga baru menerima pemberitahuan secara informal mengenai rencana tersebut.
Rencana ini menjadi bagian dari hubungan pertahanan AS-Israel yang tetap berjalan di tengah dinamika politik dan militer di kawasan Timur Tengah.
Reuters melaporkan bahwa paket tersebut mencakup 20.000 MK-84 dan 20.000 BLU-117. Sementara itu, laporan lain mengenai paket tersebut turut mencantumkan 20.000 hulu ledak I-2000 Penetrator.
Dengan demikian, perhatian selanjutnya tertuju pada proses persetujuan penjualan serta keputusan akhir pemerintah AS terkait pengiriman amunisi tersebut kepada Israel.





