Trump Bantah AS Kehabisan Amunisi di Tengah Perang Iran, Tegaskan Pasokan Senjata Terus Diproduksi

CSIS Beberkan Estimasi Persediaan Rudal AS

Lembaga kajian keamanan nasional Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencoba memperkirakan sisa persediaan amunisi AS menggunakan data yang tersedia untuk publik.

CSIS memperkirakan hingga akhir Juli, Amerika Serikat masih memiliki sekitar 759 hingga 827 rudal Patriot, atau sekitar sepertiga dari total 2.330 rudal yang dimiliki sebelum konflik dimulai.

Penasihat senior CSIS sekaligus purnawirawan Kolonel Korps Marinir, Mark Cancian, juga memaparkan estimasi penggunaan sistem pertahanan udara lainnya.

Baca Juga :  Iran Nyatakan Perang Skala Penuh dengan AS, Amerika Kembali Bombardir Target Militer dan Fasilitas Strategis

“AS kini telah menggunakan sekitar 60 persen rudal pertahanan area ketinggian tinggi terminal (THAAD), yang dikerahkan untuk mencegat serangan,” ujar Cancian pada Rabu.

Menurutnya, proses pengadaan senjata modern membutuhkan waktu panjang, mulai dari pendanaan, pemesanan, produksi hingga distribusi. Kondisi tersebut membuat penggantian stok amunisi tidak dapat dilakukan secara cepat.

Permintaan Senjata Global Tingkatkan Tekanan Pasokan

Tekanan terhadap persediaan senjata Amerika Serikat tidak hanya dipengaruhi konflik dengan Iran, tetapi juga tingginya kebutuhan dari kawasan lain.

Baca Juga :  Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Ketegangan dengan AS

Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, Washington telah mengirimkan rudal Patriot dalam jumlah besar kepada Kyiv.

Namun, seiring berkurangnya cadangan nasional, Mark Cancian memperkirakan Pentagon akan mulai membatasi pengiriman rudal tersebut.

Dalam rapat kabinet pada Jumat (31/7/2026), Trump juga menanggapi permintaan tambahan rudal Patriot dari Ukraina.

Menurutnya, memenuhi permintaan tersebut akan menjadi sebuah “langkah besar”, meski ia menyebut pembahasan dengan Ukraina masih terus berlangsung.

Pos terkait