Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer pada akhir pekan.
Militer AS kembali menggempur sejumlah target militer di Iran pada Sabtu (27/6/2026) waktu setempat. Serangan itu dilakukan sehari setelah Washington menyerang Iran sebagai respons atas serangan drone terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat (US CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan balasan atas aksi Iran yang dinilai terus mengancam pelayaran komersial di kawasan Teluk.
Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut serangan menyasar berbagai fasilitas militer Iran, termasuk infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, pertahanan udara, gudang penyimpanan drone, hingga kemampuan penebar ranjau laut.
Dilansir dari The Guardian, Minggu (28/6/2026), serangan terbaru ini terjadi di tengah rapuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati Washington dan Teheran.
Iran Klaim Serang Delapan Pangkalan Militer AS
Tak lama setelah serangan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan operasi balasan pada Minggu (28/6/2026) dini hari waktu setempat.
IRGC mengklaim serangan gabungan menggunakan rudal dan drone menyasar delapan pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Kuwait dan Bahrain.
Dalam pernyataannya, IRGC memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan dari Washington akan dibalas dengan respons yang lebih besar.
Iran juga menegaskan akan menghentikan seluruh proses diplomatik apabila kesepakatan gencatan senjata kembali dilanggar.
Sementara itu, pemerintah Bahrain dan Kuwait mengecam serangan yang diklaim dilakukan Iran.
Hingga kini belum ada kepastian mengenai lokasi yang terdampak maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.





