Baik Salwa maupun Herman berharap PLN dapat memberikan informasi lebih awal kepada masyarakat agar pelaku usaha dapat mengantisipasi potensi kerugian, terutama untuk produk yang mudah rusak.
“Tolong PLN agar bisa dipercepat perbaikannya. Masa dalam seminggu sudah lebih dari tiga kali pemadaman listrik,” katanya.
Pekerja WFH Ikut Terdampak
Dampak pemadaman listrik juga dirasakan Abdullah (38), seorang editor naskah yang bekerja dari rumah di Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Ia mengatakan listrik di rumahnya telah padam dua kali dalam sepekan terakhir, umumnya terjadi pada rentang pukul 14.00 WIB hingga 15.30 WIB.
“Tapi tetap saja menyulitkan saat ada naskah yang harus dikirim saat itu juga. Sedangkan saya biasa pakai jaringan wifi di rumah,” ujar Abdullah, Jumat.
Selain menghambat pekerjaan, pemadaman listrik juga berdampak pada kebutuhan air bersih karena toren di rumahnya sedang kosong ketika listrik padam.
“Kalau begini terpaksa beli air bersih untuk mandi karena kepepet,” katanya.
Abdullah menilai minimnya pemberitahuan menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan warga.
“Kagak ada pemberitahuan sama sekali. Untung HP sama laptop penuh baterainya. Kalau enggak, gimana bisa kerja,” ujarnya.
Anak Rewel dan Pasokan Air Terganggu
Warga Pondok Babelan Indah, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Mochamad Yakub, mengaku wilayahnya mengalami pemadaman listrik dua hingga tiga kali dalam sepekan terakhir.
Menurut dia, dampak pemadaman semakin terasa karena terjadi pada musim kemarau.





