Rahmat mengatakan proses pemulihan pasokan listrik masih bergantung pada perkembangan penanganan gangguan teknis yang berlangsung di lapangan.
“Estimasi waktu pemulihan dapat berubah menyesuaikan kondisi teknis di lapangan,” ujar Rahmat.
Pedagang Khawatir Dagangan Rusak
Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali dalam beberapa hari terakhir dirasakan langsung oleh Salwa (23), warga Teluk Pucung, Bekasi Utara.
Sebagai penjual es rumahan, ia mengaku khawatir bahan makanan dan minuman yang disimpan di lemari pendingin mengalami kerusakan akibat listrik yang sering padam.
“Es-nya jadi pada cair, belum lagi kalau lama pemadamannya. Bisa basi nantinya,” ujar Salwa kepada Kompas.com, Kamis.
Menurutnya, pemadaman yang berulang dalam waktu berdekatan juga berpotensi merusak peralatan elektronik di rumah.
“Kadang kalau terlalu sering ada aja barang yang korslet,” katanya.
Omzet Pedagang Menurun Saat Lampu Padam
Keluhan serupa disampaikan Herman (53), pedagang kue basah di Babelan, Kabupaten Bekasi.
Ia mengaku omzet penjualannya menurun karena pelanggan enggan membeli makanan saat kondisi lingkungan gelap akibat pemadaman listrik.
“Pembelinya otomatis berkurang. Mereka juga pada enggak mau kalau makan dalam kondisi gelap,” ujar Herman.
Sejak mulai berjualan pukul 17.00 WIB, ia hanya mampu menjual enam porsi kue. Padahal, sejumlah adonan telah dipersiapkan untuk dijual pada hari itu.
Selain menjual kue, Herman juga menawarkan minuman dingin yang disimpan di lemari pendingin. Pemadaman listrik membuat suhu minuman tidak terjaga dan dikhawatirkan memengaruhi kualitas produk.





