Korban Gempa Jepang Bertahan di Pengungsian di Tengah Cuaca Panas dan Krisis Air Bersih

Bantuan Air Bersih dan Pasokan Logistik

Sesaat setelah gempa terjadi, truk-truk milik SDF mengerahkan tangki air ke pusat-pusat komunitas dan sekolah di Kota Yatsushiro. Petugas membatasi distribusi air bersih sebanyak tiga liter untuk setiap warga.

Masahiro Miyamoto, warga setempat yang sempat membantu membersihkan puing-puing gerbang kuil yang roboh, menceritakan pengalamannya setelah kembali ke rumah usai gempa terjadi.

Rumahnya masih berdiri kokoh di samping rumah tetangganya yang telah hancur rata dengan tanah. Namun, karena tidak adanya pasokan air bersih, ia terpaksa mengandalkan bantuan air dari truk tangki militer.

Miyamoto mengatakan toko-toko yang masih beroperasi dipadati warga yang berburu kebutuhan pokok, sementara antrean kendaraan mengular di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Baca Juga :  Pilot Pesawat yang Tabrak Gedung Tertinggi di Beijing Diduga Bunuh Diri, Punya Riwayat Gangguan Mental

“Akan lebih baik jika bencana tidak terjadi, tetapi inilah Jepang, jadi mungkin ini adalah sesuatu yang memang harus kita jalani,” ungkap Miyamoto.

Industri Otomotif dan Semikonduktor Terdampak

Jepang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yang menjadi pusat sekitar seperlima gempa bumi berskala besar di dunia.

Meskipun standar bangunan yang ketat serta simulasi bencana rutin mampu menekan angka korban jiwa, gempa berkekuatan besar tetap berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi di wilayah terdampak.

Wilayah Kumamoto dan sejumlah daerah di Pulau Kyushu merupakan pusat produksi penting bagi industri otomotif dan semikonduktor Jepang.

Bencana ini memaksa produsen otomotif seperti Toyota, Honda, Nissan, Aisin, dan Sony menghentikan sebagian proses produksinya. Sementara itu, perusahaan pembuat cip asal Taiwan, TSMC, sempat mengevakuasi para pekerja dan menghentikan sementara operasionalnya guna memeriksa kemungkinan kerusakan fasilitas pabrik.

Baca Juga :  Eks Dubes Israel Sebut Serangan terhadap Biarawati di Yerusalem Timur sebagai “Terorisme Yahudi”

Bagi warga Yatsushiro, gempa bumi bukanlah peristiwa baru. Dua gempa besar yang terjadi pada April 2016 silam menewaskan lebih dari 260 orang dan menghancurkan ribuan rumah di wilayah tersebut. Namun, warga setempat menilai guncangan kali ini terasa jauh lebih dahsyat.

“Saya belum pernah merasakan dunia bergerak seperti itu sebelumnya. Rasanya seolah-olah tubuh saya menjadi tanpa beban dan terlempar ke udara,” pungkas Miyamoto mengenang dahsyatnya guncangan gempa.

Pos terkait