Korban Jiwa dan Kerusakan Terus Didata
Pemerintah Prefektur Kumamoto melaporkan jumlah korban tewas akibat gempa bumi telah mencapai 17 orang.
Sebagian besar korban ditemukan di pabrik kertas milik Nippon Paper Industries yang mengalami kerusakan struktur berat serta di pusat perbelanjaan Aeon yang diduga mengalami ledakan gas.
Selain itu, enam orang dilaporkan berada dalam kondisi henti jantung dan paru-paru (cardiopulmonary arrest).
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menyatakan bahwa apabila memperhitungkan sejumlah kasus yang masih dalam proses investigasi terkait hubungannya dengan bencana, total korban meninggal dunia mencapai 28 orang.
Otoritas setempat juga memprediksi suhu udara pada akhir pekan dapat melonjak hingga mendekati 40 derajat Celsius, sehingga meningkatkan risiko serangan panas (heatstroke) bagi para pengungsi.
Kondisi di tempat pengungsian pun memprihatinkan. Di salah satu lokasi pengungsian, fasilitas pendingin ruangan (AC) sempat dimatikan sementara akibat keterbatasan daya listrik.
“Di dalam tempat pengungsian sangat panas, jadi kami menghabiskan malam di luar,” tutur Masaharu Tsukada (69), yang mengungsi bersama istri dan cucunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sekitar 20 warga lainnya juga memilih bermalam di luar bangunan pengungsian.
Beberapa warga bahkan terpaksa tidur di dalam mobil pribadi demi mendapatkan ruang yang lebih privat. Seorang perempuan berusia 50-an memilih tidur di mobil karena tidak ingin orang lain melihat dirinya mengonsumsi obat untuk penyakit kronis yang dideritanya.
Meski merasa lebih nyaman, ia mengaku khawatir dengan persediaan bahan bakar kendaraannya yang terus berkurang.
“Saya khawatir melihat betapa cepatnya bensin saya habis,” ucapnya.
Para ahli turut memperingatkan bahaya kesehatan akibat tidur terlalu lama di dalam mobil. Bertahan dalam posisi duduk selama berjam-jam dapat memicu terbentuknya penggumpalan darah yang berpotensi mengancam nyawa.
Untuk mengatasi dampak cuaca panas, Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) mulai memasang sekitar 300 unit pendingin udara di pusat-pusat pengungsian dan lokasi penting lainnya di seluruh Prefektur Kumamoto.





