Koperasi Belum Berjalan, Korban Sudah Berjatuhan

Desa Membutuhkan Pengelola Profesional

Tantangan ekonomi desa saat ini sangat nyata. Mulai dari keterbatasan modal usaha, lemahnya administrasi koperasi, rendahnya literasi keuangan, hingga minimnya pemanfaatan teknologi digital.

Karena itu, kebutuhan utama desa sesungguhnya adalah pengelola yang mampu menyusun laporan keuangan secara baik, membangun strategi bisnis yang realistis, memperluas akses pasar, serta menerapkan tata kelola yang profesional.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan koperasi yang berhasil berkembang lahir dari penguatan kapasitas manajemen, pendidikan bisnis, inovasi, dan profesionalisme pengurusnya.

Baca Juga :  DPR Soroti Tiga Peserta SPPI Kopdes Merah Putih Meninggal Dunia, Minta Evaluasi Total Program

Investasi terbesar semestinya diarahkan pada pelatihan manajemen koperasi, kewirausahaan, pemasaran digital, tata kelola organisasi, dan pemanfaatan teknologi, bukan semata-mata pada pembentukan disiplin melalui pendekatan kemiliteran.

Jangan Sampai Korban Bertambah

Tragedi yang telah terjadi menjadi peringatan bahwa keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap program pemerintah.

Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar tujuan membangun ekonomi desa tidak justru dibayangi oleh risiko yang tidak relevan dengan kebutuhan program.

Baca Juga :  Saham BBCA Anjlok 5,15 Persen ke Level Terendah Lima Tahun, Tekanan Jual Meningkat

Koperasi yang sehat lahir dari kompetensi, tata kelola yang baik, dan kemampuan berinovasi. Desa membutuhkan pengelola yang profesional, mampu berpikir strategis, dan memahami dinamika ekonomi modern.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan koperasi tidak ditentukan oleh seberapa kuat pengurusnya bertahan dalam latihan fisik, melainkan oleh kemampuan mereka mengelola usaha, menjaga kepercayaan anggota, dan menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pos terkait