Ketika “Tiga Kancil” Berkumpul: Kecerdikan Elite dan Tantangan Demokrasi Indonesia

Dari “Tiga Kancil” Menuju Demokrasi yang Dewasa

Pengalaman internasional menunjukkan dua sisi dari politik akomodasi tersebut.

Koalisi besar antara CDU/CSU dan SPD di Jerman yang terbentuk pada Mei 2025 di bawah Kanselir Friedrich Merz memang menghadirkan pemerintahan dengan dukungan mayoritas yang solid. Namun, menyempitnya ruang kontestasi justru mendorong sebagian pemilih berpindah ke partai oposisi di luar arus utama.

Sementara itu, Afrika Selatan menunjukkan bahwa koalisi pemerintahan persatuan antara ANC dan DA sejak 2024 tetap memungkinkan kritik dan perdebatan kebijakan berlangsung melalui jalur konstitusional.

Baca Juga :  Prabowo Setujui Ekspor 250 Ribu Ton Urea ke Australia, PM Albanese Sampaikan Apresiasi

Pada akhirnya, kecerdikan elite politik seperti kancil dalam dongeng merupakan kapital politik yang nyata dan bahkan diperlukan dalam sistem multipartai yang kompleks.

Tidak ada yang keliru dengan kelihaian bernegosiasi ataupun kemampuan membaca situasi secara cermat. Yang perlu terus diuji oleh publik bukanlah kecerdikan itu sendiri, melainkan apakah kelincahan elite tersebut dijalankan dalam koridor yang terbuka, konstitusional, dan tetap dapat dimintai pertanggungjawaban.

Demokrasi yang sehat tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya tokoh cerdik di lingkaran kekuasaan, melainkan oleh kokoh atau rapuhnya institusi yang membingkai mereka.

Baca Juga :  Kapolri Bentuk Satgas Penyelundupan untuk Cegah Kebocoran Penerimaan Negara

Dongeng kancil sendiri tidak pernah benar-benar berakhir pada kemenangan sang kancil semata. Selalu ada hutan, sungai, dan penghuni lainnya yang harus dijaga keseimbangannya agar cerita dapat terus berlanjut.

Begitu pula dengan panggung politik. Kecerdikan boleh berpindah dari satu tokoh ke tokoh lain, tetapi keseimbangan kekuasaan adalah milik bersama yang harus terus dirawat.

Sebab pada akhirnya, tantangan demokrasi Indonesia bukan terletak pada siapa saja yang berkumpul dalam satu lingkaran kekuasaan—tiga kancil atau bahkan lebih—melainkan pada bagaimana kekuasaan itu dijalankan secara terbuka, terukur, dan tun

Pos terkait