Ke Mana Gubernur Jambi Al Haris Saat Demo Karhutla? Massa Tuntut Pertanggungjawaban

Massa Kritik Pernyataan Al Haris soal Kabut Asap

Perwakilan massa, Deri Anandia, mengkritik sikap Al Haris yang dinilai tidak mencerminkan kondisi yang dirasakan warga di lapangan.

“Wo Haris (Al Haris) masih sanggup senyum sebut Jambi aman saat memantau karhutla dari atas helikopter,” ujar Deri saat diwawancarai awak media, Kamis.

Deri mengatakan, kabut asap yang menyelimuti wilayah Jambi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ia menyebut kondisi tersebut justru semakin parah setelah berlangsung selama tiga bulan.

“Sudah tiga bulan, tidak ada perubahan dan justru semakin tebal. Bahkan Al Haris menyebut asap di Jambi berasal dari Sumatera Selatan dan itu sudah dibantah langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan,” tegas Deri.

Baca Juga :  ‎GMICAK Siap Turun Aksi, Sorot Dugaan Pelangsiran dan “Permainan” BBM di SPBU 23.372.15 Senamat

Ia kembali menyoroti pernyataan yang mengaitkan asap di Jambi dengan wilayah Sumatera Selatan.

“Sudah tiga bulan asap tidak hilang, justru semakin parah. Malah dia nyalahin Palembang, bukan begitu cara kita bernegara,” sambungnya.

Kritik tersebut menjadi bagian dari tuntutan massa agar pemerintah provinsi memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi kabut asap dan langkah konkret untuk mengatasinya.

Massa Pertanyakan Dana Rp30 Miliar untuk Penanganan Karhutla

Selain menuntut tindakan tegas terhadap korporasi yang diduga terlibat dalam pembakaran lahan, massa meminta pemerintah menjelaskan penggunaan dana penanganan karhutla dari pemerintah pusat.

Baca Juga :  Roy Suryo Tanggapi Penolakan Gugatan Praperadilan Status Tersangka: Fokus Hadapi Sidang Berikutnya

Mereka mempertanyakan pertanggungjawaban anggaran sebesar Rp30 miliar yang disebut dialokasikan khusus untuk penanganan karhutla di Jambi.

Berdasarkan data Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, luas kebakaran hutan dan lahan di Jambi telah mencapai lebih dari 36.000 hektare.

Dampak kebakaran tersebut turut menjadi perhatian warga karena paparan asap pekat selama dua pekan terakhir disebut memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari sesak napas, iritasi mata, hingga mual.

Dalam aksi tersebut, demonstran mendesak pemerintah tidak hanya memberikan penjelasan mengenai kondisi karhutla, tetapi juga menunjukkan langkah penanganan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pos terkait