Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Ketegangan dengan AS

Jalur Vital Perdagangan Energi Dunia

Selat Hormuz memiliki peran sangat strategis dalam perdagangan energi internasional. Sebelum konflik meningkat pada awal tahun ini, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur tersebut setiap hari.

Karena itu, setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut langsung memengaruhi ekspektasi pasokan energi global.

Konflik yang berlangsung sejak Februari 2026 telah menghambat arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz dan membuat harga energi bertahan di level tinggi selama beberapa bulan terakhir.

Gangguan distribusi energi juga tercermin dalam produksi negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Baca Juga :  BI Rate Naik ke 5,50 Persen: Saham Perbankan Diuntungkan, Sektor Properti Berpotensi Tertekan

Survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC pada Mei 2026 turun menjadi 16,13 juta barrel per hari (bph), level terendah dalam lebih dari dua dekade.

Penurunan tersebut terutama dipicu berkurangnya ekspor Iran dan terganggunya pengiriman minyak dari kawasan Teluk.

Iran menjadi negara dengan penurunan produksi terbesar. Ekspor minyak mentah dan kondensat negara itu juga turun ke level terendah dalam enam tahun terakhir.

Stok Minyak AS Menyusut

Selain faktor geopolitik, pasar minyak juga mendapat dorongan dari menyusutnya persediaan minyak mentah di Amerika Serikat.

Baca Juga :  Jepang Kembali Impor Minyak Rusia di Tengah Ancaman Krisis Energi Global

Reuters melaporkan stok minyak mentah AS turun 7,2 juta barrel pada pekan pertama Juni 2026. Sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026, cadangan minyak AS telah berkurang sekitar 79 juta barrel.

Penurunan stok tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pasokan energi global di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Kombinasi antara penurunan stok minyak, berkurangnya produksi OPEC, dan ancaman terhadap jalur distribusi utama minyak dunia membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik antara Iran dan AS.

Pos terkait