Menurutnya, proses tersebut perlu diberikan ruang agar menghasilkan kesimpulan yang objektif dan berdasarkan fakta.
“Penting untuk memberikan ruang bagi proses penelusuran dan pendalaman fakta yang sedang berlangsung agar setiap informasi dapat dipahami secara utuh, objektif, dan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Dave.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil evaluasi resmi diumumkan.
“Kita perlu menahan diri dari berbagai spekulasi dan memberikan kesempatan kepada proses yang sedang berjalan untuk menghasilkan gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut,” tuturnya.
Tiga Peserta Dilaporkan Meninggal Dunia
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan membenarkan terdapat tiga peserta program SPPI yang meninggal dunia dalam proses pendidikan calon manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Peserta pertama adalah Anisa Muyassaroh yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.
Menurut Karo Infohan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Anisa mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 sebelum akhirnya meninggal dunia.
“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” ujar Rico.
Korban kedua adalah Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad, Baturaja.
Taufiq dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan dan dinyatakan meninggal dunia akibat henti jantung atau cardiac arrest.





