Bank Dunia: Kelas Menengah Indonesia Kian Menyusut, Kerja Keras Belum Menjamin Naik Kelas Ekonomi

Kualitas Lapangan Kerja Masih Menjadi Tantangan

Secara jumlah, lapangan kerja di Indonesia memang menunjukkan peningkatan. Bank Dunia mencatat terdapat sekitar 1,9 juta pekerjaan baru yang tercipta sepanjang Agustus 2024 hingga Agustus 2025. Pada periode yang sama, tingkat pengangguran turun menjadi 4,9 persen.

Namun, sebagian besar pekerjaan baru tersebut berasal dari sektor dengan produktivitas dan tingkat pendapatan yang relatif rendah, seperti pertanian, akomodasi, serta jasa makanan dan minuman.

Kondisi tersebut membuat peningkatan kesempatan kerja belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan kesejahteraan pekerja.

Di sisi lain, pekerjaan yang umumnya menjadi incaran lulusan perguruan tinggi dengan tingkat upah lebih tinggi justru semakin terbatas. Salah satu sektor yang mengalami perlambatan adalah jasa keuangan yang pertumbuhannya stagnan bahkan mengalami penurunan.

Baca Juga :  Ekonomi Jambi 2025 Tumbuh 4,93 Persen, Sektor Tambang dan Pertanian Jadi Penopang Utama

Bank Dunia juga mencatat tingkat pengangguran terselubung mencapai 32,7 persen dan terus meningkat sejak 2022.

Angka tersebut menggambarkan kondisi pekerja yang sebenarnya sudah memiliki pekerjaan, namun jam kerjanya belum optimal atau pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki.

Pertumbuhan Ekonomi Belum Otomatis Meningkatkan Kesejahteraan

Bank Dunia menilai pertumbuhan ekonomi yang stabil belum secara otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini menjadi perhatian mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat menjadi 5 persen pada 2026 sebelum kembali meningkat ke kisaran 5,2 persen pada periode 2027 hingga 2028.

Baca Juga :  The Fed Dallas Soroti Dampak Penutupan Selat Hormuz, Dunia Diminta Kurangi Konsumsi Minyak dan Gas

Menurut Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup untuk memperkuat kelas menengah apabila tidak disertai peningkatan kualitas pekerjaan dan produktivitas tenaga kerja.

Dengan kata lain, perekonomian dapat terus tumbuh, tetapi jika lapangan kerja yang tercipta masih didominasi pekerjaan berupah rendah, peluang masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup dan masuk ke kelompok kelas menengah akan semakin terbatas.

“Tren-tren ini menggarisbawahi ketidaksesuaian struktural yang terjadi, di mana sektor perekonomian menciptakan lapangan kerja baru, tetapi jumlah lapangan kerja produktif dan berupah tinggi yang dibutuhkan untuk mendukung mobilitas sosial ke atas dan memperluas kelas menengah masih belum memadai,” tulis Bank Dunia.

Pos terkait