Sekuriti Tewas dalam Ledakan Jamtos, Tinggalkan Anak 7 Tahun yang Kini Yatim Piatu

JAMBI – Duka mendalam menyelimuti keluarga Peko Pradana (34), sekuriti Mal Jamtos di Kota Jambi yang meninggal dunia setelah menjadi korban ledakan tabung gas di dapur mal.

Peko merupakan satu dari enam korban dalam ledakan yang terjadi pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 19.18 WIB.

Setelah menjalani perawatan selama hampir dua pekan di rumah sakit, Peko akhirnya meninggal dunia pada Senin (5/10/2026) pagi.

Kepergian Peko meninggalkan seorang anak laki-laki berinisial G yang kini berusia 7 tahun dan duduk di kelas II sekolah dasar (SD) di Kota Jambi.

Bastian, salah satu paman Peko, mengatakan G kini harus hidup tanpa kedua orangtuanya. Ibu G telah meninggal dunia ketika anak tersebut masih berusia 6 bulan.

“Benar, istrinya (ibu dari anak Peko) itu meninggal saat cucu saya berusia 6 bulan. Selama ini mereka (Peko dan anaknya) hidup berdua,” kata Bastian.

Keluarga kini tengah berembuk untuk menentukan siapa yang akan merawat G. Mereka juga berharap ada bantuan dari sejumlah pihak, termasuk manajemen Jamtos, untuk menjamin pendidikan anak tersebut.

Baca Juga :  Ekonomi Jambi 2025 Tumbuh 4,93 Persen, Sektor Tambang dan Pertanian Jadi Penopang Utama

Bastian mengatakan keluarga akan kembali berkomunikasi dengan pihak Jamtos untuk membicarakan kemungkinan bantuan pendidikan bagi G.

“Saat ini ka kami lagi berduka, pasti kita nanti biacara ke mereka (Jamtos), dan mereka juga mengaku terbuka untuk membangun komunikasi dengan kita, tetapi belum waktunya,” sambung Bastian.

Polemik Rekrutmen Sekuriti Jamtos

Di tengah suasana duka keluarga Peko, manajemen Jamtos menuai kecaman publik setelah akun media sosial mal tersebut mengunggah lowongan pekerjaan untuk posisi sekuriti tak lama setelah Peko dinyatakan meninggal dunia.

Unggahan itu kemudian mendapat sorotan warganet. Sebagian publik mengaitkannya dengan upaya mencari pengganti Peko dan menilai pengumuman tersebut tidak menunjukkan empati terhadap keluarga korban.

Selain lowongan pekerjaan, publik juga menyoroti akun media sosial resmi Jamtos yang disebut tidak mengunggah ucapan belasungkawa atas meninggalnya Peko.

Baca Juga :  Sengketa Unbari Berlanjut, LBH Makalam Soroti Respons Bank Jambi atas Permohonan Pemblokiran Rekening

Setelah menjadi sorotan, pihak Jamtos menggelar doa bersama dan mengundang sejumlah pihak, termasuk keluarga Peko, pada Selasa (6/10/2026) malam.

Saat dikonfirmasi mengenai tudingan warganet tersebut, Robby, salah satu manajer Jamtos, enggan memberikan komentar.

“Kalau soal itu (rekrutmen sekuriti baru), saya tida bisa komentar, kalau detilnya, silakan ke pihak keluarga,” kata Robby saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (6/10/2026) malam.

Di sisi lain, Bastian memastikan pihak Jamtos telah memenuhi hak-hak Peko selama menjalani perawatan.

Menurut Bastian, sejak Peko dirawat di rumah sakit hingga meninggal dunia, pihak Jamtos terus memantau kondisi korban.

“Kalau sejak awal Peko dirawat, sampai menghembuskan nafas terakhir, pihak Jamtos ada di rumah sakit,” katanya.

Bastian juga mengatakan seluruh administrasi selama Peko menjalani perawatan di rumah sakit hingga pemulangan jenazah ke Kabupaten Kerinci ditanggung oleh pihak Jamtos.

Pos terkait