JEPANG – Jepang masih dilanda rentetan gempa susulan setelah gempa besar bermagnitudo 6,8 mengguncang Prefektur Kumamoto pada Selasa (28/7/2026) sore. Hingga Rabu (29/7/2026) pagi, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat lebih dari 60 gempa susulan, sementara peringatan tsunami yang sempat dikeluarkan telah dicabut.
Gempa besar tersebut dilaporkan menewaskan 13 orang di wilayah selatan Jepang. Selain itu, ratusan orang mengalami luka-luka, sementara puluhan ribu rumah terdampak pemadaman listrik dan gangguan pasokan air.
“Masih ada orang-orang yang menunggu untuk diselamatkan, dan saat ini kami benar-benar berpacu dengan waktu. Kami akan mengerahkan segala upaya untuk menemukan dan menyelamatkan sebanyak mungkin korban,” kata Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dilansir dari The Guardian, Rabu (29/7/2026).
Lebih dari 9.000 Warga Mengungsi
Pemerintah Jepang menyatakan lebih dari 9.000 warga mengungsi di pusat-pusat evakuasi hingga Rabu pagi.
Juru bicara pemerintah, Minoru Kihara, mengatakan tujuh orang mengalami luka berat dan 29 lainnya mengalami luka ringan.
“Hingga pukul 07.00 pagi ini, sebanyak 9.186 orang telah mengungsi di 506 pusat evakuasi yang tersebar di lima prefektur, termasuk Kumamoto dan Fukuoka,” ujarnya.
Tim penyelamat terus melakukan pencarian di sejumlah lokasi terdampak, termasuk sebuah pabrik kertas di Kota Yatsushiro yang cerobong asapnya roboh akibat gempa.
Dua pekerja berhasil ditemukan dan dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi henti jantung, sementara sembilan pekerja lainnya masih dinyatakan hilang.
Tak lama setelah gempa terjadi, ledakan juga dilaporkan terjadi di sebuah pusat perbelanjaan Aeon yang memiliki sekitar 200 toko. Rekaman video menunjukkan bagian atas bangunan utama pusat perbelanjaan tersebut hancur dan sebagian runtuh.
Dua perempuan berusia 20-an dipastikan meninggal dunia, sedangkan satu orang lainnya dilaporkan mengalami henti jantung.
Juru bicara Aeon mengatakan seluruh pengunjung dan karyawan telah dievakuasi setelah gempa pertama terjadi.





