Karena hingga malam hari keluarga belum mengetahui perkembangan penanganan pasien, mereka mengaku mendatangi dr Icha yang saat itu bertugas di IGD untuk meminta penjelasan.
Saat itu, dr Icha menjelaskan bahwa pasien ditangani sesuai SOP dan tim medis masih berkonsultasi dengan dokter spesialis.
“Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi. Tetapi itu terjadi karena kami panik melihat kondisi pasien yang menurut kami belum tertangani secara maksimal. Sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan,” ujar Therensius.
Ia menambahkan, setelah mendapatkan penjelasan dari Dokter Nur mengenai hasil pemeriksaan pasien dan ketersediaan anti venom, pihak keluarga memahami kondisi tersebut.
“Penjelasan ini yang kami butuhkan. Supaya kami tidak panik,” katanya.
Norbertus Tubani juga menegaskan dirinya dan Therensius tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis.
Menurutnya, setelah memperoleh penjelasan dari Dokter Nur, mereka menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh tenaga medis, termasuk dr Icha, serta meminta maaf kepada Direktur RSU Leona, dr Icha, dan petugas IGD.
Ia juga menyebut kondisi pasien yang sebelumnya menjadi polemik kini telah membaik setelah menjalani perawatan selama tiga hari dan telah kembali ke rumahnya di Kecamatan Insana, Kabupaten TTU.





