Victor juga mengatakan dampak psikologis masih dirasakan dr Icha setelah kejadian tersebut.
Pada Minggu (14/6/2026), saat hendak kembali bekerja, dr Icha melihat dua orang yang sebelumnya terlibat dalam insiden itu masih berada di lingkungan rumah sakit.
“Karena masih merasa takut dan tertekan, dokter Icha memilih kembali ke tempat tinggalnya,” kata Victor.
Malam harinya, rekan kerja yang berusaha menghubunginya tidak mendapat respons. Saat didatangi ke tempat tinggalnya, dr Icha ditemukan dalam kondisi lemah dan kemudian dibawa kembali ke RS Leona untuk menjalani perawatan.
“Setelah dirawat, dokter Icha menyampaikan bahwa dirinya masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan dan perlakuan yang diterimanya saat bertugas di IGD,” ujar Victor.
Hingga Sabtu (20/6/2026), dr Icha masih menjalani perawatan di RS Leona.
“Anak kami ini masih tertekan dan depresi,” tandas Victor.
DPRD TTU Bantah Tuduhan Intimidasi
Di sisi lain, dua anggota DPRD TTU, Norbertus Tubani dan Therensius Lazakar, membantah tuduhan telah mengintimidasi dr Icha.
Therensius menjelaskan, insiden bermula ketika keponakannya menjadi korban gigitan ular hijau sehingga keluarga panik dan membawa pasien ke RSUD Kefamenanu pada Sabtu (13/6/2026) sekitar pukul 12.50 Wita.
Menurutnya, pasien kemudian dirujuk ke RSU Leona karena dokter bedah sedang cuti dan serum anti bisa ular (anti venom) tidak tersedia di RSUD Kefamenanu.
Therensius mengatakan dirinya bersama Norbertus Tubani datang ke RSU Leona untuk memastikan kondisi pasien.





