Profil Michael Saylor, Investor Bitcoin Raksasa dengan Kekayaan Capai Rp85 Triliun

Jakarta — Nama Michael Saylor kembali menjadi sorotan setelah muncul prediksi bahwa kekayaannya berpotensi melampaui Elon Musk di masa depan.

Michael Saylor merupakan miliarder asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai pendiri Strategy, perusahaan yang sebelumnya bernama MicroStrategy. Perusahaan tersebut bergerak di bidang perangkat lunak analitik data dan business intelligence (BI).

Bisnis utama Strategy adalah mengembangkan software yang membantu perusahaan menganalisis data dalam jumlah besar untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.

Produk mereka digunakan untuk membuat dashboard perusahaan, menganalisis penjualan dan keuangan, memantau performa bisnis secara real time, mengolah data pelanggan, hingga mendukung strategi pemasaran dan operasional.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Strategy lebih dikenal sebagai perusahaan dengan investasi besar di Bitcoin. Perusahaan tersebut agresif membeli Bitcoin menggunakan kas perusahaan hingga dana hasil utang.

Berdasarkan data BitcoinTreasuries.net per Mei 2026, Strategy tercatat sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia, yakni sekitar 818 ribu Bitcoin.

Besarnya kepemilikan Bitcoin itu membuat sejumlah pelaku industri kripto memprediksi kekayaan Michael Saylor bisa melampaui Elon Musk apabila harga Bitcoin terus melonjak.

Veteran industri kripto, Samson Mow, memprediksi kekayaan Saylor dapat melampaui Musk jika harga Bitcoin mencapai US$4,2 juta per koin.

Perhitungan tersebut didasarkan pada kepemilikan pribadi Saylor sebanyak 17.732 Bitcoin, ditambah kepemilikannya di Strategy. Saat ini, Saylor diketahui memegang sekitar 9,9 persen saham perusahaan tersebut.

Meski begitu, sejumlah analis menilai prediksi tersebut masih bersifat asumsi. Mereka menilai perbandingan itu belum memperhitungkan pertumbuhan kekayaan Elon Musk dari berbagai proyek bisnis masa depan.

Forbes memperkirakan kekayaan Michael Saylor mencapai sekitar US$4,8 miliar atau setara Rp85 triliun. Sementara kekayaan Elon Musk diperkirakan mencapai US$827,7 miliar atau sekitar Rp14.637 triliun.

Baca Juga :  Premi Bisnis Baru Sun Life Indonesia Tumbuh 41 Persen pada Kuartal I 2026

Michael Saylor lahir pada 4 Februari 1965 di Lincoln, Nebraska, Amerika Serikat. Ayahnya merupakan perwira senior angkatan udara AS, sehingga masa kecilnya banyak dihabiskan di berbagai pangkalan militer di dunia.

Pada 1983, ia melanjutkan pendidikan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) melalui beasiswa penuh Air Force Reserve Officers’ Training Corps (ROTC).

Di kampus tersebut, Saylor mengambil dua jurusan sekaligus, yakni teknik aeronautika dan astronautika serta sejarah sains.

Saat kuliah di MIT, ia bertemu dengan Sanju Bansal yang kemudian menjadi rekan bisnisnya dalam mendirikan MicroStrategy.

Saylor sempat bercita-cita menjadi pilot, namun gagal akibat masalah medis. Ia kemudian bekerja di perusahaan konsultan The Federal Group pada 1987 dengan fokus pada simulasi komputer untuk integrasi perangkat lunak.

Setahun kemudian, ia bergabung dengan DuPont sebagai konsultan internal dan mengembangkan model komputer untuk memprediksi perubahan pasar.

Pada 1989, Michael Saylor dan Sanju Bansal mendirikan MicroStrategy menggunakan tabungan gaji mereka. Awalnya perusahaan itu fokus pada software data mining sebelum berkembang menjadi perusahaan business intelligence.

MicroStrategy mulai dikenal luas setelah mendapatkan kontrak senilai US$10 juta dari McDonald’s pada 1992 untuk mengembangkan aplikasi analisis promosi.

Pada 1998, Saylor membawa MicroStrategy melantai di bursa saham melalui penawaran umum perdana atau IPO. Harga saham perusahaan langsung melonjak dua kali lipat pada hari pertama perdagangan.

Saylor juga menerima sejumlah penghargaan di industri teknologi. Pada 1996, KPMG menobatkannya sebagai “Washington High-Tech Entrepreneur of the Year”. Setahun kemudian, Ernst & Young memilihnya sebagai “Software Entrepreneur of the Year”.

Baca Juga :  BPKN Ingatkan Maskapai Tak Berlebihan Naikkan Harga Tiket Imbas Avtur Mahal

Selain menjalankan bisnis, Saylor juga aktif menulis buku. Salah satu karyanya yang populer adalah The Mobile Wave: How Mobile Intelligence Will Change Everything yang masuk daftar best seller The New York Times.

Ia juga mendirikan Saylor.org pada 2008 sebagai inisiatif pendidikan gratis.

Michael Saylor dikenal sebagai pendukung kuat Bitcoin. Ia meyakini aset kripto tersebut dapat menjadi alat lindung nilai dan menggantikan peran emas di masa depan.

Pada Juli 2020, Saylor mengumumkan MicroStrategy mulai mempertimbangkan pembelian Bitcoin sebagai aset cadangan perusahaan. Sebulan kemudian, perusahaan menginvestasikan US$250 juta untuk membeli 21.454 Bitcoin.

Langkah tersebut ikut mempopulerkan konsep digital asset treasury (DAT), yakni strategi perusahaan publik menyimpan aset kripto sebagai cadangan perusahaan.

MicroStrategy terus menambah kepemilikan Bitcoin hingga mencapai puluhan miliar dolar AS. Pada Februari 2025, perusahaan resmi berganti nama menjadi Strategy dengan identitas baru yang menonjolkan simbol Bitcoin.

Di balik kesuksesannya, perjalanan Michael Saylor juga diwarnai kontroversi.

Pada 2000, Securities and Exchange Commission (SEC) menuduh Saylor dan sejumlah pejabat MicroStrategy memanipulasi laporan keuangan perusahaan.

Kasus tersebut akhirnya diselesaikan melalui kesepakatan dengan regulator. Saylor membayar denda US$350 ribu dan mengembalikan keuntungan pribadi sebesar US$8,3 juta.

Akibat revisi laporan keuangan perusahaan, saham MicroStrategy sempat anjlok hingga 62 persen dalam sehari. Peristiwa itu disebut sebagai salah satu momen penting pecahnya gelembung dot-com.

Pada 2022, Saylor juga menghadapi gugatan dugaan penggelapan pajak dari Jaksa Agung Distrik Columbia terkait tuduhan menghindari pembayaran pajak selama periode 2005 hingga 2021.

Kasus tersebut akhirnya diselesaikan pada Juni 2024 setelah Saylor membayar denda sebesar US$40 juta.

Pos terkait