Sebagai perbandingan, kapal perang kelas 10.000 ton setara dengan kapal perusak kelas Arleigh Burke milik Angkatan Laut Amerika Serikat atau kelas Sejong the Great milik Korea Selatan. Kapal jenis ini memiliki panjang sekitar 150 hingga 170 meter atau setara sekitar 1,5 kali lapangan sepak bola.
Korea Selatan Masih Unggul Jumlah Armada
Saat ini, angkatan laut Korea Selatan mengoperasikan lebih dari 10 kapal perang dengan bobot di atas 5.000 ton, sementara Korea Utara hanya memiliki dua kapal.
“Angka 10.000 ton akan memiliki makna simbolis bagi Korea Utara,” kata profesor studi militer Universitas Sangji, Choi Gi-il.
Menurutnya, pembangunan kapal tersebut menunjukkan keinginan Pyongyang untuk tidak tertinggal dari kekuatan maritim Seoul.
Pesan ke Amerika Serikat
Korea Utara telah lama menyatakan diri sebagai negara nuklir sejak pertemuan puncak tahun 2019 antara Kim Jong Un dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi gagal mencapai kesepakatan.
Negara itu juga masih dalam status teknis perang dengan Korea Selatan karena konflik 1950–1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Foto-foto yang dirilis KCNA menunjukkan Kim memberi hormat pada kapal Choe Hyon dan menyampaikan pidato di atas kapal yang baru diresmikan.
Menurut Lim Eul-chul, ahli Korea Utara dari Universitas Kyungnam, langkah ini juga merupakan pesan kepada Amerika Serikat dan sekutu utamanya Korea Selatan.
“Intinya adalah Korea Utara memandang senjata-senjata ini sebagai bagian dari upaya untuk lebih efektif mencegah atau menghambat intervensi militer AS di Semenanjung Korea jika terjadi konflik,” ujarnya.





