Titik Panas Terdeteksi Sejak Akhir Mei
Lukmanul menjelaskan bahwa titik panas (hotspot) pertama kali terdeteksi pada 28 Mei 2026 di sekitar koordinat 4° 18′ 33″ LU dan 96° 03′ 44″ BT.
Hingga 7 Juni 2026, aktivitas panas masih terus terpantau di lokasi yang sama.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran telah berlangsung lebih dari satu pekan sejak pertama kali terdeteksi melalui sistem pemantauan satelit.
Dalam proses pemantauan, HAkA menggunakan kombinasi beberapa teknologi satelit untuk memperoleh gambaran kondisi yang lebih komprehensif.
Teknologi yang digunakan meliputi:
- Sensor VIIRS untuk mendeteksi titik panas
- Sensor MODIS untuk memantau sebaran hotspot dalam skala luas
- Citra satelit PlanetScope untuk menghitung estimasi luas area terbakar
Pendekatan tersebut dinilai mampu mempercepat proses pemetaan karhutla, terutama pada wilayah yang sulit dijangkau oleh tim di lapangan.
HAkA Minta Dilakukan Verifikasi dan Investigasi
HAkA menilai kebakaran di Aceh Barat masih berpotensi meluas apabila tidak segera dilakukan langkah penanganan yang tepat.
Meski pemantauan berbasis satelit memberikan gambaran awal yang penting, lembaga tersebut menegaskan bahwa verifikasi langsung di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Karena itu, HAkA mengimbau Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, aparat penegak hukum, serta instansi terkait untuk segera melakukan pengecekan lapangan, upaya pemadaman, dan investigasi penyebab kebakaran.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena praktik tersebut masih menjadi salah satu faktor utama penyebab kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.





