Diduga Dipasang atas Permintaan Pejabat
Puji menyebut dirinya menduga rencana pemasangan portal dilakukan atas permintaan seorang pejabat yang tinggal sebagai warga di kawasan Jalan Indramayu RT 01 RW 05, Menteng.
Rumah pejabat tersebut berjarak sekitar dua rumah dari kediaman Puji dan tidak jauh dari lokasi tiang pancang portal pertama.
Meski demikian, Puji mengaku enggan menuduh pihak tertentu. Ia masih menunggu iktikad baik pihak terkait untuk datang dan berkomunikasi secara langsung.
“Saya enggak mau menuduh, karena sudah tiga minggu sampai saat ini, belum ada sama sekali yang memberikan informasi ke saya ataupun ngomong ke saya, siapa yang memasang tiang itu portal,” kata Puji.
Namun, dugaan tersebut menurut Puji dan warga setempat memiliki alasan. Pejabat yang tinggal di rumah tersebut disebut pernah mengajukan rencana pemasangan portal pada 2025.
Momen tersebut terjadi tidak lama setelah insiden kerusuhan demonstrasi Agustus 2025 meluas hingga sejumlah kelompok menggeruduk rumah beberapa pejabat di berbagai daerah Jakarta.
“Karena ada rumah salah satu pejabat di sini yang pernah disamperin orang waktu kejadian (kerusuhan) Agustus 2025 itu. Jadi memang nyampe ke sini waktu keributan itu, dia rumahnya disamperin, tapi pejabat ini dia ngungsi ke tempat lain,” ungkap Puji.
Namun, Puji dan warga setempat menolak pemasangan portal karena dinilai dapat menghambat akses keluar-masuk warga.
Terlebih, Jalan Indramayu merupakan jalur penghubung antara dua ruas jalan besar di kawasan Menteng, yakni Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan H.A. Salim.
Puji juga menilai penyampaian terkait izin mendirikan portal kurang etis karena hanya dilakukan melalui ajudan pribadi pejabat tersebut.
Sementara itu, selama puluhan tahun tinggal di lingkungan yang sama, pejabat tersebut dinilai jarang bersosialisasi dengan warga sekitar.
“Waktu kejadian itu, saya di-WA oleh ajudan lah. ‘Bagaimana kalau kita pasang portal begini, begini, begini’. Nah masalahnya, pertama, yang ngomong saja bukan tuan rumahnya. Etikanya di mana sih gitu?” kata Puji.
“Dia butuh pertolongan warga, tapi yang dia suruh ngomong tuh hanya ajudannya. Kenapa enggak dia yang datang atau ngomong dulu, setidaknya hanya awalan saja, nanti dilanjutkan ajudannya tidak apa-apa. Saya enggak mau menganggap siapa pejabat, di sini semuanya warga, haknya sama kita semua,” sambungnya.
Setelah insiden tersebut, portal tidak jadi dipasang. Namun, pengamanan di sekitar rumah pejabat tersebut semakin diperketat. Sebuah tenda juga didirikan di area depan rumah dan dijadikan posko penjagaan oleh aparat.
Saat Kompas.com berada di lokasi pada Selasa pagi, setidaknya tiga mobil polisi dan satu motor Polisi Militer terparkir di sisi jalan seberang rumah pejabat tersebut.





