Sebagai jalan tengah, kedua pihak kemudian merancang skema pendanaan pembangunan kembali yang melibatkan negara-negara kawasan melalui pinjaman, fasilitas kredit, maupun investasi langsung.
Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai rekonstruksi berbagai fasilitas yang terdampak konflik.
Beberapa proyek prioritas yang disebutkan antara lain kompleks baja Mobarakeh Steel, kilang minyak, bandara, serta sejumlah infrastruktur penting lainnya.
Diharapkan Menghidupkan Kembali Ekonomi Iran
Selama lebih dari empat dekade, Iran relatif minim menerima investasi asing langsung dalam jumlah besar akibat berbagai sanksi ekonomi yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan komunitas internasional.
Kondisi tersebut membuat akses Iran terhadap pasar modal global menjadi sangat terbatas.
Padahal, negara tersebut memiliki cadangan gas alam terbesar kedua di dunia serta cadangan minyak terbesar keempat secara global.
Selain itu, Iran memiliki populasi lebih dari 92 juta jiwa dan basis industri yang cukup beragam.
Potensi ekonomi Iran dinilai besar, mulai dari sektor energi, petrokimia, pertambangan, pertanian, hingga pariwisata.
Menurut sumber Reuters, dana investasi ini terpisah dari pembahasan mengenai pencabutan sanksi Amerika Serikat maupun pembebasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Kedua mekanisme tersebut memiliki tujuan dan jadwal implementasi yang berbeda.
Dana rekonstruksi baru akan dibentuk dan mulai beroperasi setelah kesepakatan final antara Amerika Serikat dan Iran resmi ditandatangani.





