Selain penggunaan teknologi dan satwa pelacak, operasi pencarian juga melibatkan sekitar 200 personel gabungan.
Mereka berasal dari Basarnas, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, komunitas pecinta alam, pengelola basecamp pendakian, hingga potensi SAR dari Kabupaten Temanggung dan Banjarnegara.
“Untuk sampai hari ini sekitar 200-an personel, ada bantuan dari Temanggung dan Banjarnegara,” ujarnya.
Namun, hingga hari keenam pencarian, tim gabungan belum menemukan petunjuk yang mengarah pada keberadaan kedua remaja tersebut.
“Untuk pencarian sampai dengan hari ini masih nihil dan belum ada indikasi atau barang bukti,” ucap Dani.
Medan Terjal Jadi Tantangan
Selama beberapa hari terakhir, tim SAR telah menyisir sejumlah jalur pendakian menuju Gunung Bismo, mulai dari kawasan Sebrani, jalur via Deroduwur, Silandak, Sikunang, hingga sejumlah basecamp di sekitar gunung.
Dalam proses penyisiran, petugas sempat menemukan sebuah botol minuman dan sepasang sandal. Namun, setelah dilakukan verifikasi bersama keluarga, barang-barang tersebut dipastikan bukan milik Apin maupun Idin.
Dani menjelaskan, operasi pencarian menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi medan lereng barat Gunung Bismo yang didominasi jurang dan tebing terjal. Selain itu, minimnya barang bawaan korban membuat jejak yang dapat dilacak sangat terbatas.
“Kami kesulitan dalam mencari jejak, karena barang bawaan survivor ini sedikit,” katanya.
Memasuki hari keenam, strategi pencarian juga diubah. Jika sebelumnya personel dibagi ke dalam empat Search and Rescue Unit (SRU), kini penyisiran difokuskan pada dua area prioritas yang dinilai memiliki peluang lebih besar berdasarkan hasil evaluasi lapangan.





