ADB Pertahankan Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen pada 2026 dan 2027

Ekspor Tumbuh, tetapi Impor Lebih Cepat

Salah satu catatan ADB terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah kontribusi perdagangan eksternal.

Ekspor riil meningkat 4,1 persen pada kuartal II 2026 setelah tumbuh 0,9 persen pada kuartal I. Namun, impor tumbuh lebih cepat, yakni 8,8 persen pada kuartal II dibandingkan 6,4 persen pada kuartal I.

Peningkatan impor mencerminkan permintaan terhadap barang modal dan barang antara seiring penguatan investasi serta aktivitas ekonomi domestik.

Karena pertumbuhan impor lebih tinggi daripada ekspor, perdagangan eksternal neto mengurangi pertumbuhan ekonomi dan sebagian mengimbangi penguatan permintaan domestik.

Kinerja neraca transaksi berjalan juga terpengaruh perkembangan tersebut. Defisit transaksi berjalan meningkat dari 3,6 miliar dollar AS atau 1 persen PDB pada kuartal I menjadi 12,5 miliar dollar AS atau 3,3 persen PDB pada kuartal II 2026.

Baca Juga :  Menkeu: Ekonomi Indonesia Mulai Berbalik Arah, Pertumbuhan Capai 5,61 Persen di Kuartal I 2026

Surplus barang menyempit dari 8,2 miliar dollar AS menjadi 1,3 miliar dollar AS karena pertumbuhan impor lebih cepat dibandingkan ekspor.

ADB menyebut defisit minyak dan gas meningkat dua kali lipat menjadi 10,2 miliar dollar AS. Kondisi tersebut terjadi seiring kenaikan harga minyak global yang meningkatkan nilai impor minyak serta tingginya permintaan domestik terhadap impor nonminyak.

Harga Energi Tekan Inflasi Indonesia

ADB merevisi naik proyeksi inflasi Indonesia untuk 2026 menjadi 3,3 persen dari 3 persen dalam laporan Juli 2026. Untuk 2027, proyeksi inflasi juga dinaikkan menjadi 3 persen dari 2,5 persen.

Meski meningkat, proyeksi tersebut masih berada dalam rentang target resmi inflasi.

Pada Januari hingga Agustus 2026, inflasi Indonesia rata-rata mencapai 3,4 persen secara tahunan, mendekati batas atas target resmi 2,5 persen plus atau minus 1 persen.

Baca Juga :  Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter, Ini Daftar Lengkap BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026

ADB menyebut peningkatan tersebut sebagian mencerminkan pengaruh harga energi internasional dan tingginya biaya input impor.

Tekanan harga energi juga berkaitan dengan kebijakan harga bahan bakar.

Dalam pembahasan ekonomi Asia Tenggara, ADB mencatat Indonesia membiarkan kenaikan harga energi internasional diteruskan ke harga bahan bakar nonsubsidi domestik, sementara harga bahan bakar bersubsidi tetap dipertahankan.

ADB memperkirakan inflasi Indonesia meningkat pada 2026 karena sebagian tekanan eksternal diteruskan ke harga domestik, termasuk melalui harga energi internasional dan inflasi impor.

Tekanan tersebut diproyeksikan berangsur mereda pada 2027 ketika inflasi umum kembali mendekati titik tengah rentang target.

Pos terkait