Konsumsi Rumah Tangga dan Belanja Pemerintah
Konsumsi rumah tangga tetap menunjukkan ketahanan sepanjang semester I 2026. Pada kuartal II 2026, konsumsi swasta tumbuh 5,1 persen secara tahunan, melambat dibandingkan 5,5 persen pada kuartal I 2026.
ADB mengaitkan perlambatan tersebut dengan normalisasi belanja setelah periode Ramadan dan Idul Fitri.
Belanja rumah tangga tetap menjadi bagian dari permintaan domestik yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam proyeksinya, ADB memperkirakan pertumbuhan konsumsi akan melambat dari level yang kuat pada semester I 2026. Meski demikian, konsumsi tetap mendapat dukungan dari berbagai inisiatif pemerintah yang berkaitan dengan kondisi pasar tenaga kerja, perlindungan sosial, serta kebijakan fiskal untuk menjaga daya beli.
Selain konsumsi, belanja pemerintah menjadi komponen penting dalam kinerja ekonomi pada paruh pertama 2026.
Konsumsi pemerintah tumbuh 16 persen pada kuartal II 2026 setelah meningkat 21,8 persen pada kuartal I 2026. ADB mencatat belanja pemerintah menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan paling tinggi.
Peningkatan konsumsi pemerintah didorong stimulus fiskal, kenaikan belanja pegawai, pembelian barang dan jasa, serta pelaksanaan program prioritas.
ADB juga mencatat penguatan investasi pada kuartal II 2026. Pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto meningkat dari 6 persen pada kuartal I menjadi 6,9 persen.
Investasi tersebut didorong penguatan konstruksi dan pelaksanaan proyek infrastruktur serta proyek terkait pemerintah.
Investasi kendaraan juga meningkat seiring penguatan permintaan kendaraan komersial. Sementara itu, investasi mesin dan peralatan mengalami perlambatan.





