PADA 20 Juli dini hari waktu Indonesia, atau 19 Juli 2026 waktu Amerika Serikat, ketika sebagian orang baru selesai bertahajud dan sebagian lainnya menahan kantuk di depan televisi, sebuah bola bergulir di New Jersey.
Ia tampak sederhana: bundar, putih, dan berpindah dari satu kaki ke kaki lainnya.
Namun, malam itu, terlalu banyak hal yang dipertaruhkan di atasnya: harapan, sejarah, politik, kenangan, dan mungkin juga doa.
Spanyol menghadapi Argentina pada partai final Piala Dunia 2026. Di satu sisi berdiri Lionel Messi, 39 tahun, yang berada di ambang penampilan terakhirnya dalam ajang Piala Dunia.
Di sisi lain, ada Lamine Yamal, 19 tahun, yang untuk pertama kalinya menapaki turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Yang satu laksana matahari menjelang tenggelam. Yang lain seperti pagi yang belum selesai membuka jendela.
Kemudian datanglah menit ke-106.
Ferran Torres menyambar bola di depan gawang Emiliano Martínez. Gol. Spanyol menang 1-0 dan memastikan gelar juara dunia keduanya setelah keberhasilan pada 2010.
Sepanjang pertandingan, Spanyol menguasai sekitar 65 persen penguasaan bola dan melepaskan 20 tembakan. Sebaliknya, Argentina hanya mencatat dua percobaan.
Sebelum partai final, Spanyol juga menorehkan 38 pertandingan tanpa kekalahan dan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen (Financial Times, 2026).
Namun, bagi sebagian orang, kemenangan itu bukan sekadar perkara statistik.
Di Gaza, barangkali tak banyak televisi yang masih utuh.
Barangkali suara peluit pertandingan harus bersaing dengan dengung pesawat, dentuman dari kejauhan, atau tangis seorang ibu di antara dinding yang tak lagi memiliki atap.
Hingga pertengahan Juli 2026, lebih dari 73 ribu warga Palestina dilaporkan tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, lebih dari 1.100 orang kembali terbunuh. Data tersebut bersumber dari Kementerian Kesehatan Gaza dan dikutip oleh berbagai lembaga internasional (AP, 2026; OCHA, 2026).
Angka-angka memang terdengar tertib. Namun, kematian tidak pernah datang dalam bentuk tabel.
Angka 73 ribu tak memperlihatkan sepasang sandal kecil di bawah puing-puing.
Ia juga tak merekam tangan seorang ayah yang menggali reruntuhan tanpa alat.
Statistik berguna untuk menjelaskan skala bencana, tetapi tak pernah cukup luas untuk menampung kehilangan.
Barangkali karena itulah manusia berdoa.
Nabi Muhammad SAW mengingatkan agar takut kepada doa orang yang teraniaya, sebab tidak ada tabir antara doa tersebut dan Allah SWT (HR Bukhari No. 1496).
Doa semacam itu tidak memiliki kementerian luar negeri. Ia tak memerlukan paspor.
Ia dapat berangkat dari tenda pengungsian, melintasi lautan, lalu tiba di tempat yang bahkan tak diketahui oleh orang yang mengucapkannya.
Maka, sebagian orang memihak Spanyol.
Bukan semata karena umpan-umpan pendek yang diperagakan, atau karena Lamine Yamal dan Nico Williams berlari seperti dua anak panah.
Sebagian mengingat bahwa pada 28 Mei 2024, Spanyol bersama Irlandia dan Norwegia secara resmi mengakui Negara Palestina.
Madrid menyebut keputusan tersebut sebagai bagian dari upaya menuju perdamaian dan solusi dua negara (Pemerintah Spanyol, 2024; Reuters, 2024).
Setahun kemudian, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi yang menuntut gencatan senjata segera dan permanen di Gaza dengan 149 suara setuju, 12 menolak, dan 19 abstain.
Spanyol mendukung resolusi itu. Sementara pemerintahan Argentina di bawah Javier Milei termasuk di antara negara yang menolak, bersama Amerika Serikat dan Israel (PBB, 2025; AP, 2025).
Namun, sepak bola bukanlah sidang Majelis Umum PBB.
Messi bukan Javier Milei. Tim nasional Argentina juga bukan kabinet di Buenos Aires.
Bahkan sejak 2010, Messi telah menjadi Duta Persahabatan UNICEF dan aktif mendukung berbagai upaya perlindungan anak (UNICEF, 2010-2026).
Menghakimi seorang pemain berdasarkan sikap pemerintah negaranya sama tidak adilnya dengan menganggap seluruh rakyat sebuah bangsa bertanggung jawab atas setiap keputusan penguasanya.
Namun, manusia memang gemar mencari simbol. Dan sepak bola selalu menyediakan panggung yang luas bagi simbol-simbol tersebut.





