Spanyol Vs Argentina: Doa pada Menit ke-106 dan Kisah yang Melampaui Sepak Bola

Ada Pula Angka 19

Pada 2007, sekitar 19 tahun silam, seorang fotografer bernama Joan Monfort mengabadikan Messi yang saat itu berusia 20 tahun bersama seorang bayi berumur sekitar lima bulan.

Messi memandikan bayi tersebut di dalam sebuah bak plastik.

Pemotretan itu merupakan bagian dari kalender amal yang diselenggarakan surat kabar Sport bersama UNICEF. Keluarga sang bayi terpilih melalui undian.

Tak ada yang mengetahui bahwa bayi itu bernama Lamine Yamal (AP, 2026).

Sembilan belas tahun kemudian, keduanya dipertemukan di final Piala Dunia.

Yamal genap berusia 19 tahun pada 13 Juli, sedangkan pertandingan berlangsung pada 19 Juli waktu Amerika Serikat.

Ia mengenakan nomor punggung 19, nomor yang juga dipakai Messi pada Piala Dunia pertamanya pada 2006 (RFEF, 2026; FIFA, 2026).

Angka tersebut tentu saja tidak mencetak gol. Ferran Torres-lah yang melakukannya.

Namun, kebetulan terkadang mengetuk kesadaran dengan cara yang terlalu indah untuk diabaikan.

Ia bukan bukti takdir, tetapi menyerupai tulisan tangan tak dikenal di pinggir sebuah naskah.

Dulu, Messi memegang tubuh kecil Yamal agar tidak tergelincir dari bak mandi.

Baca Juga :  Lamine Yamal Tunjukkan Dedikasi Tinggi dalam Pemulihan Cedera Demi Piala Dunia 2026

Kini, keduanya berdiri berhadapan, masing-masing berusaha memastikan bangsanya tidak tergelincir dari sejarah.

Messi datang membawa masa lalu: trofi, rekor, pujian, dan sebuah keagungan yang sulit diulang.

Sementara Yamal hadir membawa masa depan.

Ia adalah putra dari ayah berdarah Maroko dan ibu asal Guinea Khatulistiwa, tumbuh di Rocafonda, kawasan pekerja yang dihuni banyak keluarga migran.

Kemenangannya menjadi simbol lain: bahwa sebuah negara kadang dibela dengan gemilang oleh anak-anak yang dahulu dianggap datang dari pinggiran (Reuters, 2026).

Nelson Mandela pernah berkata, “Olahraga mempunyai kekuatan untuk mengubah dunia” (Laureus World Sports Awards, 2000).

Mungkin Mandela benar.

Namun, olahraga tidak selalu mengubah dunia dengan menjatuhkan pemerintahan atau menghentikan perang.

Kadang-kadang, olahraga hanya mengubah cara kita memandang orang lain, dan itu pun sudah menjadi sebuah permulaan.

Apakah Spanyol menang karena doa orang-orang Palestina?

Tak ada statistik yang mampu membuktikannya. Tak ada kamera yang sanggup merekam doa yang melintasi Samudra Atlantik.

Iman bukan teknologi garis gawang; ia tidak datang bersama tayangan ulang.

Baca Juga :  Dolar Melambung, Harga Naik: Kritik Publik untuk Parlemen yang Dinilai Diam Hadapi Krisis Rupiah

Namun, orang beriman tidak selalu membutuhkan hubungan sebab-akibat yang dapat dihitung.

Ia memahami bahwa doa bukanlah kontrak untuk memperoleh kemenangan. Doa adalah cara manusia yang tak berdaya untuk menolak menyerah.

Mahmoud Darwish, penyair Palestina, pernah menyebut harapan sebagai “penyakit yang tak tersembuhkan”.

Kalimat itu terdengar ganjil.

Namun, mungkin hanya penyakit semacam itulah yang membuat sebuah bangsa tetap hidup ketika peta, rumah, dan nama-nama jalan mereka berkali-kali hendak dihapus.

Malam itu, Spanyol mengangkat trofi juara dunia.

Messi meninggalkan lapangan dengan kepala tertunduk. Sementara Yamal memeluk sebuah zaman yang baru saja berpindah tangan.

Di New Jersey, papan skor hanya menuliskan: Spanyol 1, Argentina 0.

Namun, di suatu tempat yang jauh, di antara puing-puing Gaza, mungkin seseorang membacanya dengan cara berbeda.

Bahwa mereka yang teraniaya masih bisa berharap.

Bahwa mereka yang tak memiliki tentara masih mempunyai doa.

Dan bahwa Tuhan, jika berkenan menjawab, terkadang tidak menurunkan mukjizat dari langit.

Kadang-kadang, Ia hanya membiarkan sebuah bola masuk pada menit ke-106.

Pos terkait