Bank Dunia: Kelas Menengah Indonesia Kian Menyusut, Kerja Keras Belum Menjamin Naik Kelas Ekonomi

JAKARTA – Kelompok kelas menengah di Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar. Meski perekonomian nasional masih tumbuh di kisaran 5 persen, kondisi tersebut belum mampu mendorong peningkatan kesejahteraan maupun memperluas jumlah masyarakat yang masuk kategori kelas menengah.

Kelompok ini dinilai berada dalam posisi yang tidak mudah. Selain menghadapi ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan, keterampilan, dan pendapatan yang diperoleh, mereka juga tidak termasuk prioritas penerima berbagai program subsidi pemerintah.

Kelas Menengah Jadi Kelompok yang Paling Terdampak

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 bertajuk Mengelola Risiko, Mendorong Produktivitas, Bank Dunia mengungkapkan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang belum cukup kuat untuk memperbaiki kondisi kelas menengah.

Baca Juga :  10 Provinsi dengan Rata-rata Upah Tertinggi dan Terendah di Indonesia 2026 Versi BPS

Tekanan terhadap kelompok ini dipicu oleh melemahnya kualitas lapangan kerja serta menurunnya pendapatan riil pekerja berkeahlian menengah hingga tinggi.

Bank Dunia mencatat, upah riil pekerja berkeahlian menengah dan tinggi mengalami penurunan rata-rata sekitar 1 hingga 2 persen per tahun sepanjang periode 2018–2025. Sebaliknya, pekerja berkeahlian rendah justru mengalami kenaikan upah rata-rata sekitar 1,7 persen per tahun.

Baca Juga :  Cara Tingkatkan Pendapatan Lewat Investasi ST016 di BCA, Imbalan hingga 6,25% per Tahun

Meski demikian, peningkatan pendapatan pekerja berkeahlian rendah belum mampu menghentikan tren penyusutan kelas menengah.

“Dalam periode yang sama, proporsi pekerja yang masuk kategori kelas menengah merosot tajam dari 14,5 persen pada 2018 menjadi hanya sekitar 7 persen pada 2025,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Menurut Bank Dunia, kondisi tersebut erat kaitannya dengan terbatasnya lapangan kerja formal yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi. Akibatnya, semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang beralih ke sektor informal atau pekerjaan dengan tingkat produktivitas yang lebih rendah.

Pos terkait