Trump Murka Dikritik soal Kesepakatan Iran, JD Vance Pasang Badan Bela Perjanjian AS-Iran

Volume tersebut disebut menjadi yang tertinggi sejak perang dimulai, meski masih berada di bawah rata-rata sekitar 20 juta barel yang melintas sebelum 28 Februari.

Meski demikian, sejumlah pelaku industri energi menilai proses pemulihan pasokan minyak dan stabilitas jalur distribusi tidak dapat berlangsung secara instan hanya dengan ditandatanganinya dokumen dua halaman yang memuat 14 poin kesepakatan.

Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, bahkan mengingatkan bahwa kerentanan Selat Hormuz masih menjadi ancaman.

Baca Juga :  Pengamat: Kesepakatan Damai Iran dan AS Berpotensi Tekan Harga Minyak Dunia

“Pecah sudah vasnya,” ujar Birol, menggambarkan kondisi jalur pelayaran strategis tersebut.

Menurutnya, dunia kini mengetahui bahwa Selat Hormuz pernah ditutup selama konflik dan potensi kejadian serupa tetap ada di masa depan.

JD Vance Jadi Wajah Utama Pembela Kesepakatan

Peran JD Vance dalam pemerintahan Trump juga semakin menonjol setelah tercapainya kesepakatan tersebut.

Vance yang sebelumnya dijadwalkan mempromosikan buku keduanya tentang perjalanan spiritual kini lebih banyak tampil sebagai pembela utama kebijakan Gedung Putih.

Baca Juga :  Trump Siap Cairkan Aset Iran yang Dibekukan, Sebut Dana Itu Bukan Milik Amerika Serikat

Ia memberikan berbagai wawancara serta merilis sejumlah video yang bertujuan menjelaskan dan mempertahankan isi perjanjian AS-Iran.

Gedung Putih bahkan menyebut Vance sebagai “tangan kanan presiden” dan figur penting dalam tim keamanan nasional pemerintahan Trump.

Senator Partai Republik Lindsey Graham turut memuji peran Vance dengan menyebutnya sebagai “arsitek kesepakatan”.

Namun, tidak semua politisi Republik mendukung langkah tersebut. Pembawa acara radio konservatif Erick Erickson menyebut perjanjian itu sebagai “penyerahan Amerika”.

Pos terkait