Keluarga Ungkap dr Icha Tinggalkan Surat Sebelum Meninggal, Polisi Masih Selidiki Penyebab Kematian

KUPANG – Keluarga mengungkapkan bahwa dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha meninggalkan sepucuk surat sebelum ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (26/6/2026).

Dokter muda tersebut ditemukan dalam kondisi tergantung sekitar pukul 17.55 Wita. Sebelumnya, dr Icha sempat menjadi perhatian publik setelah diduga mengalami intimidasi saat bertugas menangani pasien anak korban gigitan ular di RS Leona Kefamenanu.

Keluarga Temukan Surat dan Dua Ponsel

Paman dr Icha, Fabianus Banase, mengatakan keluarga menemukan dua unit telepon genggam serta sebuah surat yang diduga ditulis oleh almarhumah sebelum meninggal dunia.

Namun, keluarga belum mengetahui isi surat tersebut karena seluruh barang bukti telah diamankan oleh penyidik kepolisian.

“Kami datang terlambat, karena kejadian tadi almarhumah sendiri dan ada temukan dua handphone dan satu surat. Semacam surat wasiat yang ia tulis dan surat itu ada di kepolisian,” ujar Fabianus, dikutip dari Pos Kupang.

Baca Juga :  Bersinergi Mewujudkan GMKI Sebagai Gemeinschaft, Berikut Wajah dan Semangat Baru BPC GMKI Jambi Masa Bakti 2026-2028

Sempat Jalani Perawatan karena Depresi

Fabianus menyebut dr Icha masih mengalami tekanan psikologis berat meski sebelumnya telah menjalani perawatan medis.

Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan di Klinik Utama Jiwa Dewantara Mental Healthcare pada Rabu (24/6/2026), dr Icha didiagnosis mengalami depresi berat tanpa gejala psikotik setelah mengalami guncangan psikologis.

“Ia mengalami guncangan yang sangat hebat, bahkan sempat melakukan percobaan bunuh diri. Itu semua tertuang dalam hasil pemeriksaan medis,” kata Fabianus, dikutip dari Kompas.com.

Keluarga sebenarnya telah menjadwalkan pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 16.00 Wita.

Namun sebelum pemeriksaan dilakukan, dr Icha telah ditemukan meninggal dunia.

“Kami sudah berencana membawa dia kontrol lagi ke Rumah Sakit Bhayangkara. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Anak kami lebih dulu meninggal dunia,” ujarnya.

Baca Juga :  Otorita IKN Ajukan Tambahan Anggaran Rp 15,5 Triliun, Ini Rincian Kebutuhan dan Belanja 2027

Fabianus meyakini kondisi psikologis keponakannya memburuk setelah insiden dugaan intimidasi yang terjadi saat bertugas.

“Artinya anggota DPRD ini secara kejam membunuh anak kami,” ucap Fabianus.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pihak keluarga. Hingga kini, kepolisian belum menyimpulkan adanya hubungan hukum antara kematian dr Icha dengan dugaan intimidasi yang sebelumnya dilaporkan.

Fabianus juga meminta pimpinan DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan partai politik tempat kedua legislator tersebut bernaung segera mengambil sikap.

“Kami minta pimpinan DPRD dan partai politik segera bertindak. Kalau tidak, keluarga juga akan mengambil langkah sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.

Selain itu, keluarga meminta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memperjuangkan perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

“Tenaga kesehatan harus mendapatkan perlindungan hukum ketika menjalankan tugasnya. Jangan sampai kejadian seperti ini kembali terulang,” ujar Fabianus.

Pos terkait