“Rakyat kecil masih menghadapi persoalan mendasar seperti harga pangan, akses rumah layak, kesehatan, dan pekerjaan yang layak,” katanya.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan model pertumbuhan ekonomi baru yang lebih inklusif dan berbasis transformasi struktural. Model tersebut dinilai tidak hanya berfokus pada pencapaian angka statistik, tetapi juga menciptakan lapangan kerja produktif, memperkuat ekonomi rakyat, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Marwan mengatakan transformasi pertama yang perlu dilakukan adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berorientasi pada penciptaan lapangan kerja formal atau job-intensive growth.
“Keberhasilan investasi jangan hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mendorong perluasan hilirisasi ekonomi hingga menyentuh sektor rakyat, termasuk percepatan pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, penguasaan teknologi, dan literasi digital.
“Negara-negara yang berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah selalu memiliki satu kesamaan, mereka tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun kualitas manusianya,” kata Marwan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di rapat paripurna DPR menyoroti kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tujuh tahun terakhir. Ia mempertanyakan kondisi kelas menengah dan tingkat kemiskinan di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.





